Bangga Menjadi WNI : Catatan Kecilku Dari Luar Negeri
Oleh : Mas Eiruel
Dengan izin Allah, sekian kali saya berkesempatan mengunjungi beberapa negara di berbagai belahan dunia. Dua kali menginap dan keliling Singapur, Dua malam menginap di Brunai Darussalam, Dua hari berada di negara jiran Malaysia. Sekian lama singgah di Arab Saudi untuk tujuan ibadah. Sempat juga derama dengan polisi China tepatnya di kota Guangzhou, sekali ke India dan satu tahun yang lalu tepat di bulan Romadhon bermalam 2 hari di Istambul Turkiye. Dari pengalaman itu, justru satu hal semakin menguat dalam hati saya: saya bangga menjadi Warga Negara Indonesia (WNI).
Kebanggaan ini bukan sekadar perasaan emosional, tetapi lahir dari perbandingan nyata yang saya lihat sendiri.
Beberapa waktu lalu sempat beredar kisah seorang WNI yang menempuh pendidikan melalui beasiswa LPDP di Inggris. Ia mengungkapkan rasa bangga ketika anaknya bisa memiliki paspor Inggris.
Postingan dia sempat menjadi tranding topik nasional bahkan mentri keuangan bapak Purbaya ikut bersuara soal anggaran mahasiswa LPDP luar negeri yang enggan pulang mengabdi ke tanah air sendiri. Beliau mengancam untuk mengembalikan dana negara yang telah dia pergunakan selama pendidikanya di luar negeri.
Kisah seperti ini menggambarkan bahwa berada di luar negeri justru sering membuat seseorang semakin kurang memahami arti tanah air.
Dari sedikit perjalanan saya ini, ada beberapa alasan mengapa saya bangga berpaspor WNI, diantaranya adalah :
Pertama, kebebasan beragama di Indonesia sangat luas. Sebagai seorang Muslim, saya merasakan betapa mudahnya menjalankan ibadah. Negara bahkan memfasilitasi banyak aspek kehidupan keagamaan, mulai dari ketersediaan mushola atau masjid digedung-gedung pemerintah atau swasta, melalui Kementrian Agama RI negara memberikan pelayanan pencatatan pernikahan, perceraian, pengelolaan zakat, hingga penyelenggaraan haji dan Umroh. Tidak semua negara memberikan ruang sebesar ini.
Kedua, kegiatan dakwah dan pengajian dapat dilakukan secara terbuka. Di Indonesia, ceramah agama bisa diadakan hampir di mana saja tanpa rasa takut. Bandingkan dengan beberapa negara sekuler ketat di Eropa, di mana aktivitas keagamaan di ruang publik sering dibatasi regulasi yang ketat demi menjaga netralitas negara. Bahkan di negara Islam seperti Arab Saudi sekalipun mubalig harus terstandar dan tersertifikasi oleh negara, sedang di Indo guru ngaji bertebaran di mana mana tanpa adanya pembatasan dari negara bahkan kadang malah di beri santunan oleh negara.
Ketiga, ketersediaan pangan yang melimpah. Tanah Indonesia yang subur memungkinkan masyarakat menanam sendiri kebutuhan makanan. Di banyak negara lain, hampir semua bahan pangan harus dibeli karena keterbatasan lahan dan iklim.
Keempat, iklim tropis yang relatif stabil. Saya pernah merasakan Ramadan di Turki bagian Eropa, tepat di akhir musim salju. Dingin yang menusuk membuat saya bahkan dua hari tidak sanggup mandi. Jaket berlapis pun tak cukup menahan gigil. Pengalaman itu membuat saya semakin bersyukur tinggal di negeri yang hangat dan hijau sepanjang tahun.
Kelima, harga makanan yang terjangkau dan mudah ditemukan. Di Indonesia, hampir setiap sudut jalan memiliki warung makan. Dengan harga belasan ribu rupiah saja, seseorang sudah bisa makan kenyang. Saat di Istanbul, secangkir kecil teh hangat bisa mencapai sekitar 40 ribu rupiah. Di India, kopi kecil di luar bandara bisa mencapai 40 ribu rupiah. Bahkan di Singapura, teh tarik sederhana di kawasan pecinan bisa berkisar 50 ribu rupiah. Tak heran banyak warga negara Singapur setiap harinya datang ke Indonesia lewat kota Batam untuk berbelanja kebutuhan hidup karena perbedaan harga yang signifikan.
Keenam, budaya masyarakat yang ramah dan penuh gotong royong. Nilai kepedulian sosial seperti ini jarang saya temukan di banyak negara maju yang masyarakatnya cenderung individualistik.
Tentu saja, kebanggaan ini tidak berarti menutup mata terhadap kekurangan bangsa. Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan seperti korupsi, kualitas pendidikan, dan dinamika demokrasi. Namun, mencintai tanah air bukan berarti menganggapnya sempurna, melainkan tetap setia sambil terus berharap dan berkontribusi untuk perbaikan.
Bagi saya, mencintai Indonesia bukan hanya soal nasionalisme, tetapi juga bagian dari nilai spiritual: cinta tanah air adalah bagian dari iman.
Dan setelah melihat dunia, saya semakin yakin Indonesia bukan hanya tempat saya dilahirkan, tetapi juga tempat yang selalu ingin saya pulangi.
