Cerdas berfikir

Cerdas berfikir
ilmu sumber hidup bahagia dunia akhirat

Kamis, 12 April 2018

RA LILUR BANGKALAN


(Ambiĺ baiknya buang buruknya)




RA LILUR BANGKALAN


Biografi KH Kholilurrahman © Siapa yang tak kenal KH Kholilurrahman. Ra Lilur demikian biasa dipanggil, merupakan ulama yang sering didatangi orang penting negeri ini. Tak itu saja, warga biasa pun sering minta barokah hanya urusan sehari-hari, mulai dari urusan minta hari untuk pernikahan sampai minta obat alternarif, pilkades.

Ra Lilur, demikian masyarakat menyebut kiai ini. Nama lengkapnya KH. Kholilurrahman. Kalau dirunut nasabnya ke atas, ia adalah cicit ulama besar Indonesia, KH Kholil Bin Abd Latief, atau Syaikhona Kholil Bangkalan, atau Mbah Kholil.

Bergelar Syaikhona, karena KH Kholil merupakan guru mayoritas ulama Indonesia.
Masyarakat Madura menilia Ra Lilur dalam maqom jadab. Dalam terminologi sufi (tassawuf), jadab merupakan suatu tahapan untuk mencapai tingkat karamah (keistimewaan) yang biasanya disebut wali.

Namun sebagian masyarakat menilai Ra Lilur adalah sudah mencapai tingkat wali. Mana yang benar? wallahu a’lam. Yang pasti, kiai ini memang luar biasa. Penampilannya yang sangat bersahaja – bahkan jauh di bawah kehidupan normal – membuat hati orang yang melihatnya bergetar. Wajahnya memang memancarkan Nur Ilahi. Ia bagai magnet kehidupan sehingga membuat orang lupa segala gemerlap duniawi. Duh, Gusti, inikah ulama sebenarnya? Ya, ia zuhud, tak perduli gemerlap duniawi dan tanpa pamrih. Hidupnya hanya untuk Allah, berkelana dari satu tempat ke tempat lain.

Orang yang tak paham bisa jadi mengira ia gila. Maklum, penampilannya apa adanya. Apalagi perilakunya cenderung aneh. Ia kadang hidup di tengah laut, merendam diri sampai berhari-hari. Namun justru sikapnya inilah yang kemudian mengingatkan orang pada Nabi Khidlir.

Ia seolah mengasingkan dari hiruk pikuk kehidupan yang kian renta, tanpa nurani. Dari tengah-tengah arus gelombang laut itu ia membaca tanda-tanda kehidupan. Apa yang akan terjadi terhadap negeri ini.

“Tamunya beragam, tapi jangan kaget kalau tak kesokan (tidak mau,red), beliau tak mau menemuinya,” tegas KH Badrus Sholeh, salah seorang ulama Bangkalan bercerita soal kenyelenehan cicit ulama Bangkalan, KH Syaikhona Mohammad Kholil bin Abdul Latif ini.

Menurut pengakuannya, tak sedikit pejabat penting, mulai regional, Jatim bahkan nasional berusaha menemui kiai yang berpenampilan nyeleneh ini. “Bahkan Pak Imam sebelum pilgub 2003 lalu sowan ke kiai,” tegas wakil ketua PCNU Bangkalan ini. Pengasuh Ponpes Wali Songo, Kwanyar Bangkalan ini melanjutkan ceritanya soal tamu-tamu penting Ra Lilur. Belakangan, orang kepercayaan Abu Rizal Bakri, bos PT Lapindo berusaha sowan ke La Lilur.

Keinginan kuat bos itu bisa ditebak, yakni minta saran agar semburan lumpur yang sangat meresahkan itu bisa dihentikan.
“Namun kiai tak kesokan (tak berhasrat) tamu utusan bos Lapindo itu,”tambahnya.
Kalangan warga biasa tak sedikit ingin sowan ke La Lilur. Mulai urusan mencari rezeki, jodoh sampai ingin agar penyakitnya sembuh.

Ada pengalaman menarik, salah seorang warga pernah sakit tak komplikasi penyakit dalam stadium akut. Bahkan sang pasien sudah hampir satu bulan opname di salah satu rumah sakit swasta di Surabaya. Karena terapi penyembuhan kedokteran tak ada perkembangan mengembirakan. Salah seorang anggota keluarga pasien memutuskan untuk minta barokah La Lilur. “Kiai memberikan obat maaq dan obat puyer sakit kepala, setelah diminum Alhamdulillah sembuh,” tegas Salim, saudara si pasien menjelaskan.

Ia memang benar-benar misterius. Ia tak menghiraukan pakaian, apalagi harta benda. Ia tak peduli penilaian orang tentang dirinya. Hidupnya hanya untuk Allah, Allah, Allah…

Ia juga jarang -untuk tak mengatakan tak pernah- bergaul dengan orang seperti umumnya ulama masa kini. Ia juga jarang disorot TV, apalagi berebut memberi komentar di koran seperti umumnya “ulama milenium.”

Namun begitu ia muncul di tengah keramaian orang, suaranya adalah “sabda.” Apa yang diucapkan sering terjadi. Karena itu ia lantas berpesan agar hati-hati.
Namun tak jarang ia bertindak tanpa bicara. Pernah suatu ketika ia tiba-tiba membakar bangunan pondok pesantren yang diasuh KH. Abdullah Schaal Bangkalan Madura. Pesantren yang lokasinya berdekatan dengan masjid Jami’ dan alun-alun kota Bangkalan itu pun hangus dilalap api.

Anehnya, Kiai Abdullah Schaal yang dikenal sangat berpengaruh di Bangkalan itu diam saja. Ia tak bereaksi, apalagi marah. Kenapa?

Perilaku Ra Lilur memang mirip Nabi Khidlir. Selain suka bertempat di kawasan berair juga isyaratnya selalu kontroversial. Nabi Khidlir pernah menumpang kapal bersama Nabi Musa. Tiba-tiba ia mengkampak dan membocori kapal yang ia tumpangi. Karuan saja Nabi Musa menegur dan marah. Sudah menumpang kapal secara gratis, kok masih bikin ulah melubangi kapal. Apalagi kapal itu sangat bagus.

Namun kemudian Nabi Musa mengerti isyarat Nabi Khidlir yang aneh itu. Ternyata itu dilakukan Nabi Khidlir justru menyelamatkan kapal tersebut. Karena dalam pelayaran selanjutnya ada beberapa aparat raja dzalim yang merampas kapal yang ditumpangi Nabi Musa dan Khidlir sudah berlubang, meski masih bagus, akhirnya lolos, tak dirampas.

Tampak apa yang dilakukan Ra Lilur itu juga ada kemiripan dengan perilaku aneh Nabi Khidlir.

Buktinya, setelah ia membakar pesantren itu kemudian terjadi peristiwa naas yang menimpa bangsa ini. “Banyak terjadi aksi pembakaran di mana-mana,” kata KH. Imam Buchori, ketua PCNU Bangkalan yang juga keponakan Ra Lilur. Aksi anarki pembakaran ini terjadi mengiringi konflik politik yang terus berkepanjangan di negeri ini. Misalnya pembakaran pertokoan, kantor-kantor partai politik, dan banyak lagi. Isyarat Ra Lilur itu kian kongkrit ketika terjadi pembakaran yang dilakukan orang-orang Dayak terhadap gubuk-gubuk orang Madura yang mengungsi dari Sampit dan Sambas.

Tak jelas, apa karena Kiai Abdullah Schaal yang dikenal sangat berpengaruh di Bangkalan itu paham terhadap keistimewaan Ra Lilur sehingga ia lalu diam saja, meski pondoknya dibakar Ra Lilur. Yang pasti, setelah gubuk santri di pesantrennya dibakar, pesantren Kiai Abdullah Schaal semakin maju pesat. Bilik-bilik santri yang semula berupa gubuk-gubuk kini dibangun mentereng. Bahkan pesantren putri yang menyatu dengan tempat istirahat Kiai Schaal persis hotel. Bangunannya megah dan menjulang tinggi, penuh tingkat. Siapa pun yang tak pernah ke Madura akan mengira bangunan itu hotel, karena memang didesain cukup artistik.

Kiai Abdullah Schal sendiri tampak sangat hormat terhadap Ra Lilur. Maklum Ra Lilur cenderung misterius dan kontroversial. Apalagi ia memiliki keistimewaan kasyaf luar biasa. Bahkan kabarnya Ra Lilur sering memberi isyarat-isyarat kepada Kiai Abdullah terutama tentang peristiwa-peristiwa yang akan terjadi. Biasanya, kalau menyangkut persoalan besar, Ra Lilur minta Kiai Abdullah Schaal hati-hati.
Yang menarik, sinyal Mega akan jadi Presiden pun sudah terdeteksi Ra Lilur sejak awal. Isyaratnya waktu itu sangat aneh. Apa?

Isyarat ala Nabi Khidlir yang dilakukan Ra Lilur memang luar biasa. Lebih-lebih bila menyangkut peristiwa politik nasional. Selain selalu tepat isyarat itu juga terjadi pada peristiwa-peristiwa besar nasional. Yang menarik, isyarat itu tidak disampaikan dalam bentuk kata-kata atau ramalan. Melainkan melalui perilaku aneh. Jadi, ia tak pernah membuat pernyataan, apalagi prediksi. Justru itulah hebatnya.
Semua isyarat itu hanya tampak dalam perilakunya yang nyeleneh. Ia sendiri bahkan tampak tak peduli. Maklum, ia tak punya kepentingan sama sekali dengan urusan duniawi, apalagi peristiwa-peristiwa nasional.

Tampaknya tingkah anehnya itu semata transfer dari Tuhan begitu saja. Bahkan bisa jadi ia sendiri tak menyadarinya. Buktinya, ia tak pernah melontarkan kata-kata. Kalau ada peristiwa besar yang akan terjadi hanya perilakunya saja yang tiba-tiba aneh. Seolah semua perilakunya menjadi radar peristiwa masa depan.

Benarkah? Ini bisa dilihat pada perilaku anehnya ketika Gus Dur akan jatuh dan diganti Megawati. Isyarat itu muncul sekitar akhir tahun 2000. Jadi jatuh sebelum Gus Dur benar-benar jatuh. Saat itu perilaku aneh Ra Lilur muncul secara tak terduga. Ia tiba-tiba selalu diikuti dan ditempel oleh istrinya (nyai) kemanapun pergi. Mau pergi kemanapun, ia terus dibuntuti oleh sang bu nyai.

Menurut keterangan tiga khadam (penjaga rumah) Ra Lilur di Desa Banyu Buneh Banjar dan Pakaan Dajah Kecamatan Galis, saat itu Ra Lilur selalu tidur satu kamar dengan istrinya. Namun anehnya, Ra Lilur tidak tidur dalam satu tempat tidur (lencak, bahasa Madura). Ia tidur terpisah dengan istrinya, meski dalam satu kamar. Lebih aneh lagi, istrinya tidur diatas ranjang, sedangkan Ra Lilur malah selalu tidur di tanah. “Jadi, Ra Lilur tidur di bawah, sedang istri beliau di atas,” jelas KH. Imam Buchori, keponakan Ra Lilur, kepada Taufiqurrahman, wartawan HARIAN BANGSA di Bangkalan Madura.

Lalu apa makna perilaku nyeleneh Ra Lilur itu? Jawabannya sangat jelas. Bahwa di Indonesia akhirnya terjadi pergantian kepemimpinan, dari Presiden pria, yakni Gus Dur, ke Presiden wanita, Megawati.

Isyarat ini masih bisa dirinci lagi dalam kontek kekeluargaan. Yaitu terjadi pergantian kepemimpinan dari Presiden ke Wakil Presiden. Bukankah istri hakikatnya adalah wakil atau pembantu suami dalam keluarga? Namun yang lebih jelas, tentunya, perilaku aneh itu merupakan isyarat pergantian kepemimpinan dari pria ke pemimpin wanita. “Terlepas benar atau salah, banyak kalangan yang memprediksi isyarat tersebut berkaitan dengan kursi presiden,” jelas Kiai Imam Buchori yang sehari-harinya aktif sebagai ketua PCNU Bangkalan.

Sayangnya, waktu itu tak ada yang tanggap terhadap isyarat yang terjadi lewat perilaku aneh Ra Lilur itu. Tak jelas, apakah karena masyarakat kurang peka atau karena isyarat aneh itu hanya diketahui kalangan terbatas. Yang pasti, isyarat itu cukup nyata dan jelas.

Masih banyak isyarat lain dari Ra Lilur yang berhubungan dengan peristiwa nasional. Apa itu?

Isyarat yang muncul dari Ra Lilur tampaknya memang bukan berasal dari kemauan pribadi. Lalu dari mana? Bisa jadi “titipan” Allah. Buktinya, isyarat itu lebih sering muncul dari perilaku aneh ketimbang kata-kata.

Isyarat dengan perilaku memang cenderung lebih obyektif. Sebaliknya, isyarat melalui kata-kata selalu subyektif, bercampur nafsu pribadi. Bahkan bisa jadi ditambah-tambahi. Karena itu mudah dipahami jika isyarat-isyarat yang muncul melalui perilaku aneh Ra Lilur sering terjadi pada kemudian hari.
Yang menarik, perilaku aneh Ra Lilur sering tak masuk akal. Menjelang pemilu 1999, misalnya, Ra Lilur tiba-tiba mengenakan pakaian aneh. Cicit ulama besar Syaikhona Kholil Bangkalan itu mengenakan pakaian serba merah. Bajunya berwarna merah. Begitu ikat kepalanya, berwarna merah. Lebih unik lagi, ia memakai sarung wanita yang juga berwarna merah. “Pakaian itu dikenakan pada menjelang Pemilu,” tutur KH. Imam Buchori, keponakan Ra Lilur kepada Taufiqurrahman, wartawan HARIAN BANGSA di Bangkalan.

Ternyata isyarat itu kemudian terbukti. PDIP yang warna kebesarannya merah menjadi pemenang Pemilu.

Apakah Ra Lilur pendukung PDIP? Tentu saja tidak. Kalau ia memakai pakaian serba merah semata ingin menunjukkan bahwa pemenang pemilu 1999 adalah PDIP. Ra Lilur malah berasal dari keluarga fanatik NU dan PKB. Bahkan semua anggota keluarganya pengurus dan warga PKB. Begitu juga keluarga ndalem Ra Lilur, baik dari khadam (pembantu) sampai keluarga intinya, pendukung berat PKB.
Ini lagi-lagi menunjukkan bahwa isyarat melalui perilaku cenderung obyektif. Buktinya, betapapun Ra Lilur berasal dari PKB ternyata malah berpakaian serba merah untuk menunjukkan peristiwa yang akan terjadi.

Kecenderungan Ra Lilur berperilaku seperti Nabi Khidlir memang cukup tinggi. Akibatnya, masyarakat cenderung tak paham. Bahkan ada yang nggrundel menyalahkan. Mereka baru sadar setelah peristiwa itu terjadi kemudahan. Ini terjadi juga ketika Ra Lilur membakar pondok pesantren yang diasuh KH. Abdullah Schaal. Seperti dilaporkan HARIAN BANGSA kemarin, Ra Lilur tiba-tiba membakar pondok pesantren.

Pesantren (PP) Syaikhona Kholil Demangan Barat Bangkalan. Karuan saja masyarakat geger. Karena dalam pandangan masyarakat umum, hanya orang gila yang berani membakar pondok pesantren. Apalagi, masyarakat Bangkalan sangat fanatik terhadap dunia pesantren. Kala itu memang belum diketahui siapa orang yang berani membakar pesantren milik Kiai Abdullah yang terkenal sangat kharismatis di Bangkalan itu.

Aparat keamanan pun kewalahan. Mereka langsung mencari siapa sebenarnya pelaku pembakaran itu. Namun, belum sempat tahu siapa pelakunya, KH. Amin Imron (kini almarhum) langsung mencegatnya. “Sudah biar saja Pak, yang bakar pondok itu keponakan saya sendiri kok,” kata Kiai Amin, ayah anggota DPR Fuad Amin.

Mendengar itu polisi langsung balik kucing. Begitu juga Kiai Abdullah Schaal. Ia tenang-tenang saja. Kiai yang sangat dihormati masyarakat Madura itu bahkan hanya senyum-senyum saja.

Memang. Peristiwa pembakaran pesantren yang terjadi pada 1979 itu ternyata menyimpan isyarat penuh misteri. Meski demikian, kala itu muncul ramalan bahwa suatu hari nanti akan berdiri bangunan pesantren setinggi ujung bara api, bekas pembakaran. Tinggi api ketika pesantren itu dibakar setinggi pohon kelapa.
Ternyata benar. Kini berdiri bangunan berlantai 7 mirip hotel. Pesantren itu untuk menampung para santri yang terus membludak dari tahun ke tahun. Pada tahun 1970, misalnya jumlah santri hanya berkisar 20 sampai 30 orang.

“Itu pun hanya santri putra,” tutur Kiai Imam Buchori. Kini santri pesantren itu telah mencapai ratusan terdiri terdiri dari santri putera dan puteri.
Banyak sekali kisah tak masuk akal disaksikan banyak orang tentang Ra Lilur. Suatu ketika ia bersama banyak orang masuk hutan. Kala itu bulan puasa. Begitu tiba di dalam hutan ternyata adzan maghrib bergema. Orang-orang bingung. Sebab tak ada makanan sama sekali untuk buat buka. Ra Lilur mengisyaratkan agar tak resah. Benar. Tanpa diduga tiba-tiba terhampar tikar semacam permadani. Yang menakjubkan, di atas tikar itu tersedia berbagai macam makanan. Karuan saja orang-orang itu heran. Meski demikian mereka tetap saja lahap berbuka puasa.
Peristiwa aneh lain terjadi pada seorang dokter dari Malaysia. Dokter ini sengaja datang untuk menemui cicit Syaikhona Kholil tersebut. Tak jelas, dari mana dokter itu kenal nama Ra Lilur.

Dokter itu bersama seseorang yang bertindak sebagai pengantar. Dokter itu kemudian diajak Ra Lilur masuk ke dalam bilik rumahnya. Di situ terjadi pembicaraan cukup lama, sekitar satu jam. Sehingga pengantar dokter itu mengaku capek menunggu di luar.

Apa yang dibicarakan? Menurut pengakuan sang dokter, Ra Lilur ternyata menguasai ilmu kedokteran secara luar biasa. Semua ilmu kedokteran dia pahami. “Saya belajar puluhan tahun, tidak seperti ilmu yang dimiliki beliau,” kata sang dokter.

Yang membuat si dokter kaget, Ra Lilur memberikan sebuah foto berukuran poscard dengan pakaian putih lengkap dengan stetoskop tergantung di leher. Sang dokter heran menerima foto Ra Lilur. “Kalau dipikir, kapan beliau berpose seperti itu.”
Keanehan Ra Lilur memang telah banyak yang menyaksikan. Habib Ali Zainal Abidin Bin Anis Al Muchdor mengaku pernah menyaksikan keajaiban Ra Lilur. Kepada Yudi Eko Purnomo, wartawan HARIAN BANGSA di Mojokerto, Habib ini bercerita banyak tentang Ra Lilur. Habib kelahiran Jember 33 tahun lalu itu berkisah tentang Ra Lilur di kediamannya di kawasan Jalan Empunala Mojokerto.

Tiga tahun lalu, tutut Habib, dirinya bersama istrinya, MN Hidayah, melanglang buana. Ia penasaran ingin bertemu Ra Lilur. Ketika sampai di kediaman kiai nyentrik itu ia diterima ajudan Ra Lilur. Ia mengutarakan maksud kedatangannya. Namun Ra Lilur tak langsung menerima begitu saja. “Kiai tidak bisa menemuinya sekarang,” tolak sang ajudan.

Ra Lilur, pada waktu itu memang banyak menerima tamu-tamu ulama dan masyarakat di rumahnya. Habib semakin penasaran. Karena itu si Habib tak langsung pergi meninggalkan rumah itu. Sambil merenung, ia bersikeras bagaimana caranya bertemu. Ia kemudian pergi ke sebelah samping rumah tersebut. Saat berjalan di bawah rimbun bambu, ia teringat pesan salah satu gurunya. “Saya kemudian mengamalkan perintah. Waktu itu saya segera membaca Al-Fatihah, saya tujukan kepada Nabi Muhammad SAW, para wali, dan Syaikhona Kholil Bangkalan.
Bacaan saya tutup dengan permintaan saya, kalau kamu -Ra Lilur- memang cucu Kiai Kholil, keluarlah,” tutur Habib.

Masyaallah. Tak disangka, seketika itu juga pundak Habib ada yang menepuk. Karuan saja Habib terkejut. Lebih terkejut lagi Habib menoleh. Ternyata yang menepuk itu Ra Lilur.

“Saya terkejut bukan main, usai membaca Al-Fatihah, mendadak pundak saya ditepuk Ra Lilur, yang sudah berdiri tepat dibelakang saya,” kenangnya.
Habib semakin tak percaya ketika tiba-tiba Ra Lilur berkata, “Sudah lama kita tak bertemu. Kamu yang saya tunggu beberapa hari ini.” Padahal Habib Ali merasa tak pernah bertemu dengan Ra Lilur.

Setelah itu Ra Lilur mengajak Habib duduk di atas gubug di tengah sawah.
Saat itu mereka ditemani salah satu ajudan Ra Lilur. Namun tiba-tiba keanehan muncul lagi.

Karena mendadak diantara Ra Lilur dan Habib tersedia susu. Padahal tak ada pelayan yang mengantarkan. Ajudan yang tadi menemani juga tak beranjak pergi.
“Silakan susunya diminum,” kata Ra Lilur seolah tak terjadi apa-apa.
Lalu apa saja keanehan Ra Lilur yang lain? Berikut laporan Taufiqurrahman, wartawan HARIAN BANGSA di Bangkalan Madura.

Sampai kini Ra Lilur kabarnya masih sering terlihat berendam di air. Tak jelas, apakah ini suatu bagian dari tirakat, atau memang digerakkan begitu saja oleh Tuhan. Yang pasti, kebiasaan Ra Lilur berendam di tengah laut ini tergolong tirakat tingkat tinggi. Siapa sih yang mau kedinginan di tengah laut. Apalagi pada malam hari. Belum lagi gangguan-gangguan hewan baik kecil maupun yang buas. Karena itu tirakat jenis ini hanya bisa dilakukan makhluk Allah yang memiliki kemampuan fisik dan jiwa luar biasa.

Namun bagi Ra Lilur itu tampaknya sangat sepele. Maklum, ia telah mencapai tingkat gila Tuhan. Nah, kegilaannya terhadap Allah itulah yang menyebabkan ia kebal dan tak merasakan apa-apa, terutama dari segi fisik. Yang bergelora dalam jasad dan jiwanya hanyalah Allah, Allah, Allah… Ia memang benar-benar telah gila Tuhan.
Cukup banyak orang yang menyaksikan Ra Lilur berendam di tengah laut, meski ia sendiri tak pernah menghiraukan sorotan masyarakat.

Bahkan suatu ketika pernah terjadi peristiwa menarik yang dialami para nelayan ikan. Kala itu seorang nelayan di Kecamatan Sepulu sontak kaget. Karena jaring yang ia tebar di tengah laut tiba-tiba terasa berat ketika diangkat. Dengan harap-harap cemas ia menarik jaringnya. Dalam pikirannya, ini pasti ikan besar. Namun betapa ia tertegun begitu jaring itu berhasil diangkat ke atas. Masyaallah, ternyata bukan ikan, melainkan tubuh manusia. Yang lebih mengagetkan lagi, ternyata tubuh itu adalah tubuh Ra Lilur yang sedang membujur. Kontan nelayan itu menceburkan kembali tubuh Ra Lilur ke laut.

Si nelayan terus tertegun. Ia tak habis pikir. Bagaimana mungkin tubuh manusia berendam dalam air sekian lama, apalagi itu jelas tubuh Ra Lilur. Sejenak ia sempat menduga, jangan-jangan Ra Lilur telah meninggal karena tenggelam di laut. Tapi dugaan nelayan itu meleset. Karena Ra Lilur sehat wal-afiat, tubuhnya tetap segar bugar sampai kini.

Menyaksikan kenyataan itu si nelayan semakin percaya betapa Ra Lilur itu waliyullah (kekasih Allah). Apalagi, sejak peristiwa itu hasil tangkapan nelayan tersebut langsung melimpah. Bahkan, setiap kali turun melaut, hasil tangkapannya lebih banyak daripada nelayan lainnya. Ia pun yakin bahwa dirinya telah mendapat barakah. Yakni terus bertambahnya kebaikan. Bukankah sebagian orang menyebut barakah sebagai zidayatul khoir (semakin bertambahnya kebaikan)?

Dalam terminologi ilmu sufi ada empat jenis keistimewaan yang diberikan kepada manusia. Pertama, mukjizat. Mukjizat ini hanya diberikan kepada para Nabi. Seperti kita pahami, bentuk mukjizat bermacam-macam. Umumnya tak masuk akal. Misalnya, dari jari Nabi Muhammad tiba-tiba bisa memancar air dan sebagainya.
Kedua, karamah. Karamah ini diberikan kepada manusia istimewa di bawah Nabi. Jadi diberikan kepada orang tertentu yang memang disayang Tuhan. Karena itu mereka disebut wali (kekasih Allah). Wali sebenarnya tak bisa dideteksi. Bahkan dalam ajaran sufi disebutkan bahwa tak ada yang bisa mengetahui wali kecuali sesama wali. Karena itu kalau tiba-tiba ada orang mengaku wali patut diragukan.
Ketiga, mau’nah. Yaitu keistimewaan untuk orang biasa. Jadi orang biasa, tapi punya keistimewaan tertentu. Misalnya, bisa terbang atau sejenisnya.

Keempat, istidraj. Keistimewaan ini diberikan kepada orang-orang yang menentang Allah. Jadi orang-orang yang sesat pun oleh Allah diberi keistimewaan. Hanya saja keistimewaan itu hakikatnya sekedar untuk memanjakan mereka (me-lulu-bahasa Jawa). Karena kelak di akhirat ia akan disiksa habis-habisan.
Lalu bagaimana dengan Ra Lilur? Wallahu a’lam. Tapi kalau dilihat dari keluarbiasaan kehidupan sehari-harinya ia memang telah memasuki proses wali. Atau paling tidak, ia masuk dalam kategori jadab, yakni orang gila Allah yang masuk tahapan menuju proses wali.

Buktinya, ia sudah tak peduli masalah duniawi. Ia total kepada Allah melalui proses spiritual kontroversial. Diantaranya berendam di air laut siang malam. Maka mudah dipahami jika ia memiliki mukasafah (kemampuan meneropong masalah yang akan terjadi) cukup tinggi. Bahkan untuk melihat peristiwa yang akan terjadi pada masa datang seolah melihat di balik tirai saja.

Isyarat-isyarat Ra Lilur memang banyak yang terjadi. Lalu bagaimana tentang kondisi negara ini? Ternyata ketika ditanya tentang kondisi negara Ra Lilur serta merta menangis. “Beliau mengajak berdo’a. Dalam do’anya, beliau menangis prihatin,” tutur Ali Zainal Abidin Bin Anis, seorang kiai dari Jember.

Seperti diberitakan HARIAN BANGSA sebelumnya, Habib ini pernah datang ke Ra Lilur, namun tak ditemui langsung. Ra Lilur baru keluar menemui setelah Habib mengirimkan surat Al-Fatihah kepada Nabi Muhammad, para wali dan Syaikhona Kholil Bangkalan, buyut Ra Lilur.

Menurut Habib, Ra Lilur menyatakan bahwa dalam kondisi multikrisis ini banyak wali menyembunyikan diri. Meski begitu, ia dengan memakai bahasa Arab sempat mengungkapkan kebanggaannya karena di Indonesia masih banyak orang bermunajat, ingat Allah. Kemudian Ra Lilur -dengan bahasa Madura- mengajak Habib makan.

Ra Lilur segera beranjak meninggalkan gubug, tempat mereka duduk di tengah sawah. Ra Lilur tampaknya menyiapkan makanan sendiri. Tentu saja Habib penasaran. Masak seorang kiai terhormat mau menyiapkan makanan sendiri. Habib penasaran. Karena itu ia mengendap-ngendap berusaha mengintip apa yang diperbuat Ra Lilur. Ia terus membuntuti tuan rumah tersebut. Ra Lilur ternyata terus berjalan menuju sebuah gubug mirip kandang.

Anehnya, hanya dalam sekejap ia sudah keluar membawakan masakan ala Timur Tengah. Yaitu sedandang nasi kebuli. Ini luar biasa, pikir Habib. “Bayangkan, sekian banyak porsi makanan disiapkannya dalam tempo sekian menit,” katanya. Namun Habib mengaku tak nafsu makan. Ia lebih banyak terpaku heran. “Ya, saya terlalu banyak disuguhi kejadian tak masuk akal,” kata Habib kepada Yudi Eko Purnomo, wartawan HARIAN BANGSA di Mojokerto.

Apalagi sebelumnya juga terjadi peristiwa aneh. Ketika itu Habib sedang berbincang-bincang dengan Ra Lilur. Nah, pada saat asyik ngobrol itu rokok si Habib habis. Anehnya, ketika itu juga tiba-tiba tangan Ra Lilur memegang rokok kesukaan Habib. Di tangan Ra Lilur ada sebungkus rokok. Lebih aneh lagi, rokok itu baru dibuat dua hari sebelumnya. Itu tampak dari nomer register rokok tersebut.
“Saya tiap kali beli rokok, memang selalu melihat nomer register, kapan rokok itu dibuat.” kata Habib.

Perilaku aneh Ra Lilur tidak hanya terjadi pada persoalan-persoalan negara, tapi juga berkaitan dengan orang kampung. Suatu ketika seorang penduduk di desa terpencil kehilangan sapi. Ia sedih karena sapi itu merupakan satu-satunya harta yang paling berharga bagi keluarganya.

Karena ingin sapinya kembali, dia sowan ke kediaman Ra Lilur. Maksudnya untuk minta barokah agar sapinya bisa kembali lagi.

Kebetulan waktu itu Ra Lilur sedang berada di rumah. Ia langsung ditemui oleh kiai nyentrik itu. Padahal, tamu yang hendak sowan ke Ra Lilur, biasanya baru bisa ketemu minimal setelah tiga kali sowan. Tapi, kali ini aneh. Ra Lilur malah dengan senang hati membantu orang yang malang itu.

Lalu apa yang dilakukan Ra Lilur ketika diminta barokah agar sapi orang itu kembali lagi? Lagi-lagi Ra Lilur bertindak tak masuk akal.

Warga yang kehilangan seekor sapi itu diberi pil mencret atau murus. Tentu saja orang itu bingung dan dongkol. “Orang kehilangan sapi kok diberi obat murus. Ini sungguh tak masuk akal,” kata orang yang kehilangan sapi itu tak habis pikir. Namun sebelum pulang pil itu tetap diminum sesuai petunjuk Ra Lilur. Meski demikian ia tetap saja pikirannya tak bisa menerima.

Ia kemudian pulang. Di tengah perjalanan menuju rumahnya, tiba-tiba perutnya mules. Tanpa pikir panjang ia lantas pergi ke sungai untuk membuang hajat.
Ajaib, ternyata setelah buang hajat, dia melihat beberapa ekor sapi ditambatkan di semak-semak di sekitar sungai itu. Ketika diperiksa, salah satu sapi yang ditambatkan itu adalah miliknya. Ia girang bukan main. Namun di balik kegirangan itu ia juga merasa berdosa. Ia gelo karena hatinya sempat dongkol pada Ra Lilur ketika diberi obat murus.

Keajaiban Ra Lilur memang sering dalam bentuk perilaku tak masuk akal. Ini mirip peristiwa-peristiwa Nabi Khidlir ketika melakukan perjalanan bersama Nabi Musa. Tiba-tiba Nabi Khidlir mencekik seseorang anak yang sedang main. Karuan saja Nabi Musa kaget. Ia menegur Nabi Khidlir. Namun Nabi Khidlir mengingatkan bahwa sejak awal Nabi Musa memang tak akan kuat melakukan perjalanan bersama Nabi yang suka tinggal di kawasan berair itu. Nabi Musa pun diam.
Mereka kemudian kembali melakukan perjalanan. Sampai di tengah jalan mereka haus.

Mereka kemudian minta air ke orang kampung untuk menghilangkan rasa hausnya itu. Tapi orang-orang di kampung tersebut tak satu pun yang mau memberi air. Anehnya, Nabi Khidlir ketika menyaksikan bangunan tua di kampung itu tiba-tiba memperbaikinya. Nabi Musa heran, kenapa Nabi Khidlir mau memperbaiki bangunan di kampung itu, padahal masyarakatnya sangat pelit, minta air saja tak mau mengasih.

Karena itu ia menegur lagi. “Iya, kan kamu tak akan kuat melakukan perjalanan bersama saya,” kata Nabi Khidlir lagi mengingatkan Nabi Musa.
Setelah sampai di suatu tempat Nabi Khidlir menjelaskan tentang perilaku anehnya itu. “Saya bunuh anak itu karena nanti kalau sudah besar ia akan menjadi orang jahat, durhaka pada Allah,” kata Nabi Khidlir.

Lalu kenapa mau memperbaiki gedung di masyarakat yang pelit? “Karena di bawah bangunan itu ada harta anak yatim yang kelak bisa diambil. Karena itu gedungnya harus tetap terawat,” katanya.

Habib Ali Zainal Abidin termasuk orang yang banyak menyaksikan peristiwa ajaib tentang Ra Lilur. Maklum, ia ketika bertamu sempat tak ditemui oleh Ra Lilur. Namun begitu baca fatihah Ra Lilur langsung muncul. Ra Lilur yang cicit ulama terkenal Syaikhona Kholil itu serta merta mengajak Habib berbincang akrab. Namun justru karena banyak peristiwa ajaib itulah selera makan Habib langsung hilang.

Karena itu ketika Ra Lilur menyuguhkan makanan ia menolak. “Saya masih kenyang kiai,” kata Habib kepada Yudi Eko Purnomo, wartawan HARIAN BANGSA di Mojokerto. Ra Lilur tak tersinggung. Ia malah tersenyum.

Habib merasa kenyang karena selain sudah banyak disuguhi keajaiban-keajaiban juga proses makanan yang dikeluarkan itu tak wajar. Ra Lilur hanya sebentar masuk dapur. Namun tiba-tiba nasi kebuli, masakan khas Timur Tengah itu, sudah siap santap. Karena itu hati Habib curiga, jangan-jangan makanan itu berasal dari khadam sejenis jin. Namun belum selesai Habib menuntaskan kecurigaannya itu tiba-tiba Ra Lilur berkata, “Ini dari Allah.” Karuan saja Habib kaget. Ia malu sehingga wajahnya merah.

Habib semakin penasaran ketika Ra Lilur menyinggung istrinya, Ny MN Hidayah. “Disela-sela obrolan selama empat jam tersebut Ra Lilur menanyakan keadaan istri saya selama ditinggal merantau. Ia tahu, selama ini istri saya selalu tinggal sendiri di rumah, meski dia bekerja di PT Askes Kota Mojokerto,” tutur Habib semakin terbata-bata.

Yang membuat Habib semakin heran ketika Ra Lilur menyebut alamat rumahnya secara lengkap baik di Pamekasan maupun di Jember. “Padahal, sekali lagi, beliau sama sekali tidak pernah tahu saya, apalagi alamat saya. Itu membuat saya heran,” katanya.

Kemampuan menebak gerak hati lawan bicara itu memang sering ditunjukkan para wali. KH. Abdul Hamid Pasuruan, misalnya, kerap menunjukkan peristiwa aneh seperti itu. Semasa hidup kiai ini pernah kedatangan KH. Yusuf Hasyim (Pak Ud), putera pendiri NU Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari. Saat itu Pak Ud -yang sehari-harinya aktif sebagai pengasuh pesantren Tebuireng Jomban itu- bersama tokoh NU KH. Munasir. Begitu Pak Ud datang Kiai Hamid langsung menyongsong. Kiai Hamid bahkan sempat merangkul Pak Ud. Akibatnya, Kiai Munasir seolah terabaikan. Nah, saat itulah dalam hati Kiai Munasir secara tak sengaja menggerutu. “Ya, wajar kalau Pak Ud diperlakukan (dihormati, red) seperti itu. Sebab Pak Ud putera macan (Kiai Hasyim Asy’ari, red). Jadi macan ketemu macan,” kata Kiai Munasir dalam hati.
Ternyata tanpa diduga Kiai Hamid langsung berbalik ke arah Kiai Munasir. “Jangan begitu. Manusia itu sama saja. Ayo,” kata Kiai Hamid sembari merangkul Kiai Munasir. Karuan saja Kiai Munasir terkejut. Ia tak menyangka gerundelan dalam hatinya diketahui oleh Kiai Munasir.

Menurut Habib, Ra Lilur sering menunjukkan firasat-firasat aneh sehingga orang tak habis pikir. Misalnya menangis. Habib menuturkan, jika Ra Lilur menangis, berarti ada kaum auliya (wali) wafat. Ra Lilur menangis karena jika wali meninggal berarti syiar Islam berkurang. Selain itu dunia kehilangan ‘pahlawan’ penyebar agama.

Di Kepala Kiai Ada Nasi ketika Jadi Imam Shalat

Perilaku aneh yang ditampakkan Ra Lilur tampaknya memang berkaitan dengan leluhurnya yang memang wali. Syaikhona Kholil Bangkalan, buyut Ra Lilur juga dikenal berperilaku aneh-aneh. Kiai Kholil dikenal sebagai ahli nahwu (gramatika Arab). Konon, ketika masih kecil Kiai Kholil sudah menunjukkan tanda-tanda aneh. Suatu ketika ia shalat berjama’ah bersama para santri dan kiainya. Seperti biasa, yang jadi imam adalah kiainya. Namun tiba-tiba Kholil kecil tertawa terbahak-bahak. Usai shalat kiainya memarahi Kholil. “Orang lagi shalat kamu malah tertawa. Apa maumu,” bentak sang kiai.

Kholil menjawab enteng. “Sewaktu kiai shalat tadi saya lihat ada nasi di atas kopyah kiai, karena itu saya tertawa,” jawab Kholil.
Seketika kiainya kaget sekaligus malu. Ia sadar bahwa shalatnya tak khusuk karena ingin cepat-cepat pergi menghadiri kenduri. Sejak itu kiainya mulai menaruh perhatian besar pada Kholil. Ia sadar bahwa diantara santrinya ada yang punya kemampuan luar biasa. Yakni punya kasafah.
Dugaan kiai itu betul. Kholil kemudian berkembang menjadi kiai besar. Bahkan menjadi kiai hampir seantero Jawa, karena kiai-kiai besar di Jawa adalah santri atau pernah nyantri pada Kiai Kholil.

Keanehan Kiai Kholil terus terjadi ketika sudah kesohor. Suatu ketika Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari mau nyantri ke pesantren yang diasuh Kiai Kholil di Bangkalan. Kiai Hasyim yang waktu itu masih muda langsung dites. Kiai yang kemudian menjadi pendiri NU itu, konon, disuruh naik ke atas pohon bambu. Sementara Kiai Kholil terus mengawasi dari bawah sembari memberi isyarat agar terus naik sampai ke puncak. Kiai Hasyim terus naik sesuai perintah gurunya itu. Ia tak peduli apakah pohon bambu itu melur atau bagaimana. Yang jelas, ia hanya patuh pada perintah kiainya.
Anehnya, begitu sampai di puncak Kiai Kholil mengisyaratkan agar Kiai Hasyim meloncat ke bawah. Tanpa pikir panjang Kiai Hasyim langsung meloncat. Ternyata ia selamat.

Yang menarik, dua kiai besar ini sama-sama tawadhu’ alias rendah hati. Mereka sama-sama saling berguru. Kiai Hasyim terkenal sebagai ahli hadits. Biasanya Kiai Hasyim mengajarkan hadits itu pada santri sebulan penuh bila bulan puasa. Ternyata Kiai Kholil, meski dikenal sebagai guru Kiai Hasyim, ikut juga jadi santri. Ia tak gengsi memperdalam ilmu meski kepada muridnya sendiri. Sebaliknya, ia malah sangat menghormati Kiai Hasyim.

Tradisi tawadhu’ (rendah hati) itu ternyata terus menurun ke generasi berikutnya. Gus Dur -cucu Kiai Hasyim- sangat menghormati keturunan Kiai Kholil. Begitu juga KH. Fuad Amin -cicit Kiai Kholil- sangat menghormati keturunan Kiai Hasyim.
“Kalau saya salaman mencium tangan Gus Dur langsung ditarik,” tutur Fuad Amin.

Gagal Temui Nabi Khidlir, Bertekad Mengembara

Ra Lilur memang berasal dari keluarga sufi. Dalam arti, leluhurnya dikenal dekat dengan Nabi Khidlir. Karena itu mudah dipahami jika keajaiban-keajaiban Ra Lilur mirip dengan perilaku Nabi Khidlir.

KH. Imron, kakek Ra Lilur, konon, pernah ditemui Nabi Khidlir, Kiai Imron adalah putera Syaikhona Kholil Abdul Latif Bangkalan.

Kala itu Nabi Khidlir menjelma sebagai orang berpenyakit yang menjijikkan. Orang itu kemudian minta gendong pada Kiai Imron. Namun Kiai Imron menolak. Karena menolak orang itu lantas minta gendong ke Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari yang waktu itu masih mondok di pesantren Kiai Kholil.

Kiai Hasyim menggendong hampir sampai ke pesantren. Menjelang sampai ke pesantren orang itu minta diturunkan. Orang tersebut kemudian berkata, “Sampaikan kepada Kiai Imron, saya ini Nabi Khidlir.” Setelah itu orang tersebut lenyap.

Begitu kabar disampaikan, Kiai Imron terkejut. Ia menyesal telah menolak menggendong orang berpenyakit itu yang tak lain adalah Nabi Khidlir. Sejak itu, kabarnya, Kiai Imron bertekad untuk mencari Nabi Khidlir. Ia terus mengembara untuk mencari Nabi Khidlir.

Kasus seperti Kiai Imron ini memang banyak terjadi. Seseorang pernah ingin bertemu Nabi Khidlir. Ia datang kepada kiai yang dikenal wali. Orang tersebut kemudian disuruh pergi ke trotoar gedung bioskop. Namun begitu sampai di tempat yang ditunjuk. Ternyata Nabi Khidlir tak ada. Orang tersebut kemudian kembali ke rumah sang kiai. Ia melaporkan bahwa di depan gedung bioskop itu tak ada Nabi Khidlir. Yang ada hanya orang jual bakso.

Lalu apa kata sang kiai? “Ya, itu Nabi Khidlir. Yang menjelma jadi tukang bakso itu,” kata kiai itu. Kontan saja orang sudah lama ingin bertemu Nabi Khidlir itu gelo. Konon, KH. Abdul Hamid Pasuruan yang dikenal sebagai wali itu sering didatangi orang yang ingin bertemu dengan Nabi Khidlir. Suatu ketika ia kedatangan tamu yang ngotot mau bertemu Nabi Khidlir. Kiai Hamid lantas minta orang itu datang kembali besok.

Karena memang sangat ingin melihat Nabi Khidlir, orang tersebut datang seperti perintah Kiai Hamid. Ia lantas duduk di sela-sela tamu yang banyak. Kiai Hamid terus asyik bercakap-cakap dengan para tamunya. Kemudian para tamu itu pulang sehingga tinggal orang yang ingin bertemu Nabi Khidlir itu.
“Kiai, mana Nabi Khidrnya,” katanya tak sabar setelah menunggu tak muncul-muncul.

“Lho, tadi sewaktu kamu ke sini ada orang nggak di depan?” tanya Kiai Hamid.
“Ada, tapi orang membersihkan got,” kata orang itu jujur.
“Ya, itu tadi Nabi Khidlir,” jelas Kiai Hamid. Karuan saja orang itu terkejut. Ia tak menyangka orang yang ia sepelekan tadi ternyata Nabi Khidlir.

Nangis Ngguguk, Ulama Kejar Harta, Telantarkan Fakir Miskin

Belum ada informasi jelas tentang pendidikan Ra Lilur. Tapi ia menguasai bahasa Arab. Kehidupan Ra Lilur memang agak berbeda dengan keluarga Syaikhona Kholil lainnnya yang pendidikannya jelas. KH. Abdullah Schaal, saudara Ra Lilur, misalnya, sejak kecil nyantri secara teratur. Kemudian mengasuh pesantren warisan Syaikhona Kholil. Karena itu pesantren yang terletak di kota Bangkalan itu dinamakan Pesantren Syaikhona Kholil. Pesantren inilah yang pernah dibakar oleh Ra Lilur.

Ra Lilur sejak muda dikabarkan suka mengembara. Ia sering tak jelas di mana tempatnya. Ia hanya muncul ketika mau mengabarkan peristiwa-peristiwa penting yang akan terjadi. Untuk proses penyampaian kabar itu ia kadang datang kepada Kiai Abdullah Schaal. “Biasanya ia minta agar Kiai Abdullah hati-hati,” ujar salah seorang keluarga Kiai Abdullah kepada HARIAN BANGSA. Setelah itu ia kembali ke kediamannya. Atau meneruskan laku-nya, merendam diri di tengah laut.

Yang menarik, di kediaman Ra Lilur cukup banyak tamu berkunjung. Di depan tamunya -terutama yang khusus- ia kadang bercerita tentang peristiwa-peristiwa penting. Misalnya tentang ulama yang kini mulai lebih suka mengejar-ngejar harta ketimbang memikirkan nasib umat. Cicit Syaikhona Kholil itu bahkan menangis sampai ngguguk ketika bicara tentang ulama yang hanya mengejar harta. “Kalau ulama sudah lupa kepada kedudukannya dan mencintai harta serta kemewahan, berat, berat, dihadapan Allah SWT. Dampaknya, mereka akan pecah. Ya, Allah, selamatkanlah mereka,” kata Ra Lilur sembari menangis sesenggukan. Ia menyampaikan itu kepda tamunya dalam bahasa Arab.

Soal bahasa Ra Lilur melihat tamunya. Kalau tamunya paham bahasa Arab kadang bicara dalam bahasa Arab. Tapi jika tamunya orang Madura, biasanya ia cukup bahasa Madura.

Berbeda dengan ulama milenium yang berebut posisi dan sibuk dengan politik, Ra Lilur sangat sederhana. Baik pakaian maupun kehidupan sehari-harinya sangat bersahaja. Ra Lilur memang lebih tepat jika disebut sebagai ulama rohani.

Pengusaha Besi Kapok Datang, Rugi Rp 100 Juta, Ayah Mati

Banyak cerita menarik yang dialami Habib Ali Zainal Bin Anis Al Muchdor ketika berkunjung ke kediaman Ra Lilur di Tanah Merah Bangkalan Madura. “Waktu itu saya melihat pakaian Ra Lilur yang sederhana. Saya lantas ingat satu hadits yang mengatakan agar hati-hati terhadap orang yang berpakaian compang-camping. Karena orang itu mulya di sisi Allah. Uniknya, seketika itu Ra Lilur menjawab Sallallah ’ala Muhammad,” tutur Habib. Sontak Habib takdim kepada Ra Lilur. Karena apa yang ada dalam hati Habib, ternyata Ra Lilur tahu.

Tak lama kemudian Ra Lilur bertanya kenapa seorang pengusaha besi tua bernama H. Hasan yang tinggal di Cililitan Jakarta tak pernah datang lagi kepadanya.
Habib Ali menjawab mungkin sudah jera karena banyak pengalaman pahit yang dialami ketika datang ke Ra Lilur.

Menurut Habib, Hasan pernah mengalami tekanan ekonomi. Karena ia mendengar kejadian-kejadian aneh yang dialami Habib bersama Ra Lilur, ia kemudian memutuskan datang kepada kiai jadab itu.

Ia minta do’a kepada Ra Lilur. Ia berharap, cicit Syaikhona Kholil Bangkalan itu, mau mendo’akan, agar usahanya tetap langgeng. Begitu juga kalau ada job baru sukses.
Singkat cerita, setibanya di rumah sang kiai, segera ia disambut ajudan sekaligus dihadapkan kepada Ra Lilur. Hasan lantas menceritakan masalahnya. Ra Lilur mendengar semua cerita Hasan. Namun yang membuat Hasan tak habis pikir, ketika hendak pulang, ia diberi obat sakit kepala Paramex.

Tentu ia bertanya-tanya dalam hati. Dengan diliputi tanda tanya, Hasan pulang ke rumahnya di Jakarta. “Di dalam bus, saya terus mikir. Mau diapakan obat ini. Kenapa pula kiai memberi saya ini,” gumam Hasan seperti ditirukan Habib.
Seminggu kemudian, H. Hasan ternyata tertimpa musibah. Usahanya rugi Rp 100 juta. “Mati aku. Rupanya itu maksud kiai memberi obat,” kata Hasan tersenyum kecut.

Sebulan kemudian, di rumahnya, telepon H. Hasan mendadak berdering. Telepon itu dari saudaranya di Tanah Merah, Madura. Ia mengabarkan bahwa abahnya (ayah), yang murid Habib Sholeh Tanggul, Jember, sakit keras. Dilanda rasa gundah tak terkira, ia pun pergi menemui abahnya.

Abahnya terbaring sakit di atas pembaringan. Ia lantas menemui guru abahnya, yaitu Habib Sholeh Tanggul, H. Hasan diminta membawa tasbih. Menurut Habib Sholeh, tasbih itu, selain untuk wirid juga sangat manjur untuk mengobati orang sakit. Sesuai dengan pesan guru, tasbih itu dicelupkan ke dalam segelas air. Selanjutnya, air bekas celupan itu diminumkan kepada orang yang sakit. Semula, penyakit itu memang berkurang. Badan abahnya sedikit enakan. Tapi itu tidak berlangsung lama.

Beberapa waktu kemudian, bapaknya kembali jatuh sakit. H. Hasan pun segera beranjak pergi meminta do’a kepada Ra Lilur. Yang tak membuat H. Hasan heran lagi, ketika Ra Lilur, memberinya kapas, berikut minyak telon. Itu diberikan ketika H. Hasan hendak pulang. Seperti sebelumnya, dalam perjalanan menuju rumah orang tuanya di Tanah Merah, hati H. Hasan, diliputi tanda tanya yang hebat. Begitu tiba di rumah abahnya, ia mendapati banyak orang menangisi kepergian orang tua lelakinya itu. Rupanya, kapas dan minyak telon itu, sebagai perlambang bahwa penyakit orang tuanya tak dapat disembuhkan. “Kapok sudah saya bertemu Ra Lilur,” kata H. Hasan setengah menggerutu.

Geger, Wanita Misterius Penjemur Ikan Dinikahi Kiai

Di kawasan pesisir Bangkalan ada seseorang wanita yang sehari-harinya membersihkan ikan. Wanita itu tak ubahnya seorang buruh. Ia tiap hari membersihkan dan menjemur ikan milik orang. Ia hanya dapat upah sekian rupiah dari jerih payahnya itu.

Kesibukan di kawasan pesisir itu membuat orang tak pernah memperhatikan wanita itu. Apalagi wanita itu memang tampil seperti umumnya buruh; kusut dan agak kotor. Karena itu masyarakat tak pernah memperdulikan. Masyarakat baru terhenyak ketika wanita berpenampilan kumal itu dinikahi Ra Lilur. Rasan-rasan pun ramai. Mereka seolah tak percaya kiai seterhormat Ra Lilur mau menikahi wanita buruh itu.

Yang menarik, begitu berita pernikahan Ra Lilur dengan wanita itu tersebar, masyarakat mulai bertanya-tanya, dari mana asalnya wanita tersebut. Sebab meski setiap hari bertemu dan berkumpul masyarakat di sekitar pesisir itu tak ada yang tahu asal muasal wanita tersebut. Masyarakat pun mulai geger. Wanita itu dianggap misterius karena tak diketahui asal usulnya.

Ajaibnya, begitu masyarakat heboh tiba-tiba muncul informasi bahwa wanita tersebut berasal dari kesultanan Demak. Karuan saja masyarakat kembali ramai. Tapi benarkah ia berasal dari kesultanan Demak? Wallahu a’lam. Tapi masyarakat di sekitar pesisir itu yakin ia berasal dari Demak. Yang juga unik wanita itu tetap sederhana meski dinikahi Ra Lilur. Padahal ia telah jadi istri orang terhormat dan disegani masyarakat.

Bahkan Ra Lilur bukan saja disegani masyarakat tapi juga dihormati para ulama. Toh istri Ra Lilur tetap bersahaja. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya ia berjualan es lilin. Dagangannya itu kadang dijajakan kepada para santri KH. Abdullah Schaal di Pesantren Syaikhona Kholil Bangkalan. “Ia sering ke sini (pesantren) jual es lilin,” kata salah seorang keluarga Kiai Abdullah Schaal.
Aneh, memang. Padahal, kalau mau, bisa saja ia kaya raya mengingat tamu Ra Lilur yang terus membludak. Ia juga bisa ongkang-ongkang, tak usah kerja keras, seperti umumnya istri kiai. Tapi itu tak ia lakukan. Ia lebih suka makan dari hasil keringatnya sendiri ketimbang menunggu pemberian masyarakat.

Terjangkit Penyakit Menahun, Diobati dengan Tiga Korma

Ra Lilur ternyata tak hanya piawai mendeteksi masa depan. Ia juga ahli mengobati orang sakit. Tak aneh jika banyak tamu yang minta tolong untuk mengobati penyakitnya. Bahkan semenjak hijrah ke sebuah desa di kecamatan Galis Bangkalan, tamu yang hadir meminta barokah semakin bejibun saja. Uniknya, yang datang tidak hanya dari kalangan santri dan masyarakat biasa, namun juga kiai pengasuh pesantren yang punya masalah.

Salah satunya, seorang kiai asal Surabaya. Kiai ini sudah puluhan tahun mengidap penyakit aneh. Awalnya dikira terkena serangan syaraf. Menurut analisis dokter spesialis syaraf terkenal yang praktik di Jl. Diponegoro Surabaya, kiai ini, syaraf rahangnya terganggu, sehingga sulit mengatupkan lidahnya. Kalau berbicara harus dipegang. Pendek kata penderitaan itu sudah lama.

Sebelum memeriksakan ke dokter neurolog tersebut, kiai ini melanglang buana berkonsultasi dengan berbagai ahli, baik ahli medis, maupun paranormal. Tapi hasilnya nol besar. Bahkan pernah juga berkonsultasi ke KH. Ghofur, pengasuh ponpes Sunan Drajat Paciran Lamongan.

Juga gagal. Salah seorang santrinya, pernah menyarankan agar berobat ke suatu daerah di Jabar. Tapi setelah dijalankan, perkembangannya hanya sesaat. Usai berobat, hanya sepekan kondisinya sehat, setelah itu kambuh lagi.

Karena penyakit yang menahun inilah, kemudian timbul syak swasangka, jangan-jangan penyakit aneh ini, bukan penyakit lahir, karena tak terdeteksi secara medis, tetapi penyakit kiriman, alias terkena sihir atau sejenisnya.

Namun kiai ini terus berikhtiar sembari tetap pasrah. Di tengah-tengah kepasrahan itulah, tiba-tiba timbul wisik-wisik dari seorang tamu yang agak aneh. Tamu itu menyarankan, agar meminta barokah ke Ra Lilur.

Tanpa pikir panjang, maka berangkatlah rombongan kiai itu ke tempat pedepokan Ra Lilur di sebuah desa Banjar kecamatan Galis Kabupaten Bangkalan. Biasanya orang yang tak pernah sowan ke Ra Lilur, sulit langsung ditemui. Tapi khusus yang satu ini, Ra Lilur langsung menyanggongnya. “Lenggi-lenggi pada parlo napa (mari silakan duduk, ada maksud apa ke sini),” sapanya.

Kiai ini langsung mengutarakan niatnya. Ia juga menceritakan perjalanannya berobat ke mana-mana, namun hasilnya nihil. Mendengar keluhan itu, Ra Lilur langsung memberi tiga buah korma dari dalam rumahnya. “Da’ar pa tada’ (silakan makan dihabiskan),” kata Ra Lilur. Saat dialog itu tak begitu cair. Maklum Ra Lilur memang sering memperlihatkan suasana yang sulit ditebak. Kadang-kadang tertawa, tapi kadang-kadang tak banyak bicara.

Mungkin saat itu, Ra Lilur paham, betapa menderitanya kiai ini lantaran merasakan sakit menahun.

Usai menyuguhkan tiga korma, Ra Lilur memberi wejangan, agar kiai tadi, berobat ke seorang dokter kiai di sebuah kawasan sekitar Pasar Turi Surabaya. Kenapa disebut dokter kiai, karena dokter itu, selain memberi obat, juga memberi bacaan-bacaan.
Hasilnya? Alhamdulillah, penyakit menahun kiai sederhana itu akhirnya berangsur-angsur sembuh.

Aparat Nangis, Minta Tolong Ditunjukkan Tommy Soeharto

Keanehan Ra Lilur semakin menjadi-jadi. Ini terkait dengan kondisi nasional yang masih belum menentu. Yang menarik, keanehan Ra Lilur itu kini banyak mengundang perhatian aparat. Bahkan ada anggota Polri berpangkat perwira menengah (Pamen) datang ke kiai yang dikenal punya kasaf itu untuk minta tolong. Si pamen itu rela bepergian tengah malam dengan sepeda motor menuju desa Banjar untuk menemui Ra Lilur.

Apa tujuan sang Polisi? Ajudan (khaddam) Ra Lilur, H. Husni Madani, bercerita kepada Taufiqurrahman wartawan HARIAN BANGSA di Bangkalan Madura tentang keinginan pamen berpangkat Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) itu. Menurut Husni ia minta tolong agar ditunjukkan tempat persembunyian Tommy.
Namun Ra Lilur sulit ditemui. Karena itu pamen itu menyampaikan maksudnya itu melalui Husni. Diceritakan, sebelum menyampaikan keinginannya, selama tiga malam berturut-turut petinggi polri itu melakukan wirid dan mengaji di mushalla milik H. Husni.

“Malah dia (petinggi Polri itu) sampai menangis ketika membaca Al-qur’an,” tuturnya.
Lantas bagaimana tanggapan Ra Lilur ketika ajudannya menyampaikan keinginan sang tamu? Dengan tegas Ra Lilur mengatakan, untuk memburu Tommy sangat sulit, karena memang ada yang membuatnya sulit. “Sulit karena memang dibuat sulit,” jawab Ra Lilur singkat seperti ditirukan H. Husni. Jawaban itu diberikan Ra Lilur melalui ajudannya.

Dari jawaban Ra Lilur itu tersirat bahwa Tommy memang ada yang melindungi. Karena itu mudah dipahami jika beberapa pihak ragu terhadap upaya polisi menangkap Tommy. Bahkan kini muncul analisis bahwa gerakan aparat yang mau menangkap Tommy itu sekedar basa-basi belaka, yakni untuk meredam kekecewaan atau mengalihkan perhatian masyarakat dari persoalan politik di tubuh Polri sendiri maupun seputar di Mega.

Perilaku Ra Lilur kini memang kian aneh. Sudah dua minggu ini, Ra Lilur mengunci diri di sebuah gubuk di atas gunung. Bahkan pintu pagarnya pun digembok. Sehingga, tamu yang hendak sowan ke Ra Lilur sulit untuk bertemu. Selama ini hanya ada dua orang khaddam yang bisa menemui Ra Lilur.

Seorang tamu yaitu kiai dari Jember, KH. Nawawi Abdul Jalil, hanya bisa bertemu dengan ajudan. “Sudah dua minggu kiai tidak ngomong. Beliau berkomunikasi hanya dengan tulisan tangan saja. Kalau ada tamu, saya hanya bisa menyampaikan keinginan sang tamu. Tapi kiai hanya memberikan tulisan atau barang,” papar khaddam yang sudah mengabdi sejak tahun 1989 ini.

Serahkan Dekrit pada Kiai Abdullah Schaal

Keanehan Ra Lilur memang sulit ditebak. Terutama menyangkut peristiwa politik negara. Buktinya, jauh sebelum Gus Dur memberikan dekrit ia telah menyerahkan dekrit kepada dua kiai kharismatik Madura yakni KH. Abdullah Schaal dan KH. Zubair Muntasor.

Menurut khaddam kepercayaan Ra Lilur, H. Husni Madani, kiai yang sudah mencapai tahapan mukasafah ini enam bulan lalu pernah mengeluarkan sebuah dekrit. Dekrit tersebut berisi persoalan penerapan demokrasi yang tengah diperjuangkan oleh Gus Dur yang saat itu masih menjabat sebagai Presiden.

Sayang selembar kertas dekrit asli tulisan tangan Ra Lilur itu diminta kembali. Sedangkan KH. Abdullah dan KH. Zubair hanya diberi salinannya (fotokopi) saja. H. Husni hanya ingat penggalan kalimat yang tersirat dalam dekrit Ra Lilur. Antara lain, demokrasi sulit dipraktikkan. Yang terakhir, berisi kalimat berat sama dipikul, setelah ringan tidak kebagian. “Saya hanya ingat dua kalimat itu, sedangkan yang lain saya lupa,” katanya.

Mengapa tidak difotokopi lebih? H. Husni mengatakan, sebenarnya dekrit itu difotokopi lebih dua lembar. Tapi setelah menghadap Ra Lilur, lembaran yang asli diminta sedangkan yang dua lembar fotokopi disimpannya.

“Anehnya, dua lembar fotokopi dekrit itu hilang. Padahal saya ingat dimana saya simpan,” tuturnya keheranan. “Ya mungkin, kiai tidak kasokan (tidak mengijinkan, red),” katanya mengira-ngira.
KHadam kepercayaan Ra Lilur menjelaskan, fotokopi dekrit diberikan kepada KH. Abdullah sebanyak 5 lembar dan 5 lembar lainnya diserahkan.

Rabu, 11 April 2018

Cadar budaya atau syariat

*Cadar, Budaya Atau Syari'at?*
_oleh : Muhammad Rivaldy Abdullah_


Belum hilang ingatan publik soal pelecehan dan stigmatisasi negatif Rektor UIN Suka terhadap pakaian muslimah cadar; muncul lagi pelecehan serupa yang dilakukan tokoh publik terhadap syari'at ini. Bahkan yang ini lebih parah.

Kami tidak paham tentang Sejarah Budaya Indonesia. Kami juga tidak paham siapa itu Ibu Indonesia. Yang kami tahu, kami mencintai negeri ini dengan tulus dan kami senantiasa berusaha membuatnya sejahtera dan mulia. Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur.

Segelintir orang saat ini selalu berusaha membenturkan Syari'at, dengan apa apa yang diklaim sebagai Budaya dan Jati diri bangsa Indonesia. Pada saat yang sama, mereka tidak merasa risih dengan gempuran budaya asing dari Barat dan Timur Asia, yang hari ini menjangkiti generasi muda yang jelas-jelas tidak sesuai dengan jati diri bangsa. Sungguh ini merupakan satu sikap yang membingungkan.

Cadar sebagai Budaya sebetulnya bisa kita dapati di wilayah Nusa Tenggara Barat. Disana, pakaian adat bagi para perempuan bermodel cadar. Pakaian adat ini bernama Rimpu, dikenakan oleh Muslimah Bima dan Dompu ketika mereka keluar rumah.

Ada 2 jenis Rimpu, yaitu Rimpu Mpida dan Rimpu Colo. Rimpu Mpida adalah Rimpu yang memakai cadar dan menutupi wajah. Pakaian ini diperuntukan bagi yang belum menikah. Sedangkan Rimpu Colo adalah Rimpu yang tidak ada cadar (terbuka wajahnya), dan dikenakan oleh ibu-ibu atau mereka yang sudah menikah. (lihat, https://m.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/ternyata-cadar-dan-jilbab-telah-menjadi-pakaian-adat-nusa-tenggara-barat.htm)

Sejatinya cadar, bukanlah produk budaya. Baik budaya Arab maupun budaya lainnya. Syari'at hijab(termasuk di dalamnya cadar), termasuk bagian syariat ilahiyyah yang suci.

Sebagian ulama, mewajibkan cadar karena dianggap terdapat dalil yang berbicara tentang itu. Sebagiannya menganggapnya sunnah, dan sebagiannya hanya menganggap mubah(boleh). Kesemuanya berdasarkan pertimbangan dalil. Bukan masalah budaya atau adat.

Madzhab Syafi'I, terbagi ke dalam dua pendapat mengenai cadar. Sebagian mewajibkan, dan sebagiannya menyunnahkan.

Dalam kitab Nihayatuz Zain, Syaikh Nawawi Banten rahimahullaah menulis :

والحرة لها أربع عورات؛ إحداها جميع بدنها إلا وجهها وكفيها ظهرا وبطنا وهو عورتها في الصلاة فيجب عليها ستر ذلك في الصلاة حتى الذراعين والشعر وباطن القدمين. ثانيتها ما بين سرتها وركبتها وهي عورتها في الخلوة وعند الرجال المحارم وعند النساء المؤمنات. ثالثتها جميع البدن إلا ما يظهر عند المهنة وهي عورتها عند النساء الكافرات. رابعتها جميع بدنها حتى قلامة ظفرها وهي عورتها عند الرجال الأجانب فيحرم على الرجل الأجنبي النظر إلى شيء من ذلك ويجب على المرأة ستر ذلك عنه والمراهق في ذلك كالرجل فيلزم وليه منعه من النظر إلى الأجنبية ويلزمها الاحتجاب منه.

“Perempuan merdeka memiliki empat macam aurat,

-Pertama ; seluruh  tubuhnya kecuali wajah dan dua telapak tangannya,-baik punggung maupun telapaknya- dan ini adalah auratnya dalam shalat, jadi wajib baginya menutupnya ketika shalat sekalipun itu kedua lengan,rambut ataupun dua telapak kaki.

-Kedua ; bagian antara pusar dan lututnya,dan ini adalah auratnya tatkala ia sendiri,dan ketika berada di hadapan  laki-laki yang mahram dan  kaum perempuan yang muslimah,

-Ketiga ; seluruh tubuhnya kecuali yang nampak pada saat ia bekerja, dan ini adalah auratnya dihadapan para perempuan kafir.

-Keempat ; seluruh tubuhnya sekalipun kukunya yang telah tercabut, dan ini adalah auratnya dihadapan laki-laki yang bukan mahram, maka haram atas laki-laki bukan mahram untuk memandang sesuatu dari tubuhnya dan wajib bagi perempuan untuk menutupnya (auratnya) dari pandangannya.” *(Nihayatuz Zain Syarh Qurrah Al 'Ain, hal. 48. Fashl fi Masa'il Mantsurah)*

Sebagian Ulama yang tidak mewajibkan penutup wajah atas perempuan, berdalil dengan hadits :


يَا أَسْمَاءُ إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتِ الْمَحِيضَ لَمْ يَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلَّا هَذَا وَهَذَا

_Wahai Asma ! Sesungguhnya wanita jika sudah baligh maka tidak boleh nampak dari anggota badannya kecuali ini dan ini (beliau mengisyaratkan ke muka dan telapak tangan)._ *(HR. Abu Dawud, No. 4104; Al-Baihaqi, No. 3218. Abu Dawud berkata : "Hadits ini mursal sebab Khalid Ibn Duraik tidak pernah bertemu dengan 'Aisyah".)*

Hadits ini -menurut mereka yang tidak mewajibkan cadar- menjadi dalil tidak wajibnya perempuan untuk menutup wajah mereka.

Namun, bagi mereka yang mewajibkan, mereka beralasan bahwa hadits ini mardud(tertolak).

Hadits ini diriwayatkan dari Said Ibn Basyir, dari Qotadah, dari Khalid Ibn Duraik, dari 'Aisyah.

Khalid Ibn Duraik tidak pernah mendengar hadits ini dari 'Aisyah, sebagaimana penuturan Imam Abu Dawud dan Abu Hatim. *(lihat, Al 'Ilal [1463])*

Dan Said Ibn Basyir Al Azdi, meski terkategori shaduq, beliau dianggap dho'if dalam hafalan. Imam Ahmad mendho'ifkannya. Begitu pula Ibnul Madini, Abu Dawud, dan An Nasa'i. *(Su-aalaat Muhammad Ibn Utsman Ibn Abi Syaibah[223]; Al 'Ilal wa Ma'rifatir Rijaal[495])*

Di dalam hadits ini juga terdapat idhtirob(keguncangan) dan Said Ibn Basyir bertafarrud dalam hadits ini. Said Ibn Basyir menjadikannya dengan riwayat dari Khalid Ibn Duraik dari Aisyah. Sedangkan di riwayat yang lain dari Khalid Ibn Duraik dari Ummu Salamah. *(Ibn 'Adi, Al Kamil, 3/373)*

Karena itu, pendapat bahwa cadar adalah budaya Arab dan sama sekali tidak ada dalam syari'at, adalah pendapat yang menyesatkan lagi berbahaya.

Para Ulama telah berselisih dalam hal ini dan mereka tidak memandang cadar sebagai warisan budaya, namun memandang hal itu sebagai bagian dari syari'at. Wallaahu a'lam.

Seputar vaksin

📝 *Tanya Jawab Seputar Vaksin*
💐🌿 Soal Jawab WA Ngaji FIQH 🌸🌿

السؤال

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

أختكم في العقيدة – مدينة يوزييفا – أتوجه إلى العالم الجليل عطاء بن خليل أبو الرشتة أمير حزب التحرير حفظه الله ورعاه بمايلي

أنا شيشانية أعيش في بلجيكا منذ ١٤ عام حيث تكثر الجالية الشيشانية. في الآونة الأخيرة كثر الحديث والتسائلات عن تطعيم الأطفال في الإسلام أي التطعيم ضد الحصبة، وشلل الأطفال، إلتهاب الكبد الوائي، النكاف، السل وغير ذلك من أنواع التطعيم، و يُرى توجه عارم ضد التطعيم واللقاحات، ويعلل أصحاب هذا التوجه ذلك – بالمضاعفات التي تحدث جراء التطعيم والتي هي في اضطراد متزايد وأن هذا ضرر لا يجوز تعريض أطفالنا الاصحاء له، وكذلك إن العلاج ليس فرضاً فما بالكم بالوقاية فهي دون ذلك بلا شك، ويواصلون القول: التطعيم يعني نقل الميكروب إلى جسم الطفل وهو محرم، وكما أن الطعومات تؤخذ من الحيوانات كالقرد مثلاً. انتهى كلامهم

والسؤال: ما واقع التطعيم، وما هو الحكم الشرعي فيه؟ وهل سيوجد في دولة الخلافة التطعيم بأنواعه؟ مع العلم أن نصف الجالية المسلمة عندنا لا يطعمون أبنائهم، واعدادهم في تزايد، واصبح الحكم الشرعي الواضح والقوي لا مفر منه، طالبين منكم الاسهاب والتوضيح ما استطعتم لذلك سبيلا، وجزاكم الله عنا وعن المسلمين خير الجزاء

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Pertanyaan:

Assalaamu’alaykum,wr,wb

Saya adalah muslimah Chechnya, saya tinggal di Bolsevik sejak 14 tahun lalu semenjak banyaknya komunitas kaum wanita Chechnya. Pada periode akhir-akhir ini terjadi banyak fenomena dan muncul beragam pertanyaan seputar vaksinasi anak dalam Islam yakni vaksinasi untuk menangkal penyakit campak, polio, hepatitis, radang/ gondok, penyakit TBC, dan beragam jenis vaksin lainnya, dan muncul penentangan keras terhadap vaksinasi dan jenis pengobatan suntikan-suntikan lainnya, dan kelompok ini menjustifikasi pandangannya dengan adanya beragam komplikasi yang terjadi yang disebabkan oleh vaksin dan hal itu kian meningkat.

Maka vaksin (dianggap) berbahaya sehingga tidak boleh menjerumuskan anak-anak kita yang sehat ke dalam bahaya, dan karena sesungguhnya berobat itu hukumnya bukan fardhu dan (dinyatakan) apa yang menghalangi kalian untuk melakukan tindakan pencegahan (preventif) dan tak ada keraguan bahwa pencegahan bukanlah pengobatan.

Dan telah sampai pernyataan: vaksinasi yakni memindahkan mikroba ke dalam tubuh anak dan hal ini diharamkan, misalnya vaksin-vaksin yang diambil dari bagian tubuh binatang-binatang semisal kera, selesai pendapat mereka.

Dan pertanyaannya: bagaimana fakta vaksin sebenarnya, dan bagaimana hukum syara’ atas vaksinasi? Dan apakah ada vaksinasi dengan beragam jenisnya dalam Daulah Khilafah kelak? Seiring dengan adanya informasi bahwa setengah dari komunitas muslimah di negeri kami tidak memvaksinasi anak-anaknya, dan jumlah mereka kian meningkat, sedangkan hukum syara’ yang sudah jelas dan dilandasi argumentasi kuat tidak memberikan peluang untuk menghindarinya, maka kami meminta perincian dan penjelasan dengan segenap kemampuan anda untuk menjelaskan jawabannya, dan semoga Allah membalas kebaikan anda pada kami dan kaum muslimin dengan sebaik-baiknya balasan.

Wa’alaykumussalaam,wr,wb.

:الجواب
وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته
:التطعيم هو دواء، والتداوي هو مندوب وليس فرضاً، ودليل ذلك

١-روى البخاري من طريق أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم «مَا أَنْزَلَ اللَّهُ دَاءً إِلَّا أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً
وروى مسلم عن جابر بن عبد الله عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ، فَإِذَا أُصِيبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ»، وروى أحمد في مسنده عن عبد الله بن مسعود «مَا أَنْزَلَ اللَّهُ دَاءً، إِلَّا قَدْ أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً، عَلِمَهُ مَنْ عَلِمَهُ، وَجَهِلَهُ مَنْ جَهِلَهُ».وهذه الأحاديث فيها إرشاد بأن لكل داء دواءً يشفيه، ليكون ذلك حاثاً على السعي لحصول التداوي الذي يؤدي إلى شفاء الداء بإذن الله سبحانه، وهذا إرشاد وليس إيجاباً

JAWABAN:

Wa’alaykumussalaam,wr,wb.

Vaksin merupakan obat, dan berobat hukumnya sunnah bukan fardhu, dan dalilnya adalah:

Pertama, Imam al-Bukhari meriwayatkan dari jalur Abu Hurayrah r.a. ia berkata: Rasulullah SAW bersabda:

“Tidaklah Allah turunkan suatu penyakit, melainkan Allah turunkan pula penawarnya.” (HR. Al-Bukhari)

Imam Muslim meriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdullah dari Nabi SAW bersabda:

“Setiap penyakit itu ada obatnya, jika ditemukan suatu obat yang tepat atas suatu penyakit maka akan sembuh dengan idzin Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR. Muslim)

Dan diriwayatkan Imam Ahmad dalam Musnad-nya dari ‘Abdullah bin Mas’ud:

“Tidaklah Allah turunkan penyakit, melainkan Allah turunkan pula penawarnya, baik yang diketahui orang yang telah mengetahuinya, maupun yang tidak diketahui orang yang tidak mengetahuinya.” (HR. Ahmad)

Hadits-hadits ini mengandung petunjuk bahwa setiap penyakit itu ada obat penawarnya, hal itu merupakan dorongan untuk mengupayakan pengobatan yang mengantarkan pada kesembuhan dari penyakit dengan idzin Allah SWT, dan petunjuk tersebut merupakan suatu anjuran bukan perintah wajib.

٢- روى أحمد عن أنس قال: إن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: «إِنَّ اللَّهَ حَيْثُ خَلَقَ الدَّاءَ، خَلَقَ الدَّوَاءَ، فَتَدَاوَوْا»، وروى أبو داود عَنْ أُسَامَةَ بْنِ شَرِيكٍ، قَالَ: أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْحَابَهُ كَأَنَّمَا عَلَى رُءُوسِهِمُ الطَّيْرُ، فَسَلَّمْتُ ثُمَّ قَعَدْتُ، فَجَاءَ الْأَعْرَابُ مِنْ هَا هُنَا وَهَا هُنَا، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَنَتَدَاوَى؟ فَقَالَ: «تَدَاوَوْا فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلَّا وَضَعَ لَهُ دَوَاءً، غَيْرَ دَاءٍ وَاحِدٍ الْهَرَمُ» أي “إلا الموت

Kedua, Imam Ahmad meriwayatkan dari Anas yang berkata: “Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya Allah ketika menciptakan penyakit, Allah pun menciptakan obatnya, maka berobatlah.”(HR. Ahmad)

Imam Abu Dawud meriwayatkan dari Usamah bin Syarik, ia berkata: “Saya mengunjungi Nabi SAW dan para sahabatnya, dan di atas kepala mereka seakan-akan ada burung, maka aku memberi salam lalu duduk, lalu datanglah seorang Arab Badui dari arah ini dan arah itu, lalu mereka berkata: “Wahai Rasulullah, apakah kami mesti berobat?” Rasulullah SAW menjawab: “Berobatlah kalian, karena sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla tidaklah menurunkan suatu penyakit melainkan Allah turunkan pula obatnya, kecuali satu penyakit ketuaan, yakni kematian.”

ففي الحديث الأول أمر بالتداوي، وفي هذا الحديث إجابةٌ للأعراب بالتداوي، ومخاطبة للعباد بأن يتداووا، فإن الله ما وضع داءً إلاّ وضع له شفاءً. وقد جاءَت المخاطبة في الحديثين بصيغة الأمر، والأمر يفيد مطلق الطلب، ولا يفيد الوجوب إلاّ إذا كان أمراً جازماً، والجزم يحتاج إلى قرينة تدل عليه، ولا تُوجد في الحديثين أية قرينة تدل على الوجوب، إضافة إلى أنه وردت أحاديث تدل على جواز ترك التداوي، ما ينفي عن هذين الحديثين إفادة الوجوب

Maka dalam hadits pertama di atas, terdapat perintah untuk berobat, karena dalam hadits tersebut terdapat perintah terhadap Arab Badui untuk berobat dan perintah bagi hamba-hamba Allah agar mereka berobat, karena tidaklah Allah turunkan suatu penyakit melainkan Allah turunkan pula penawarnya. Dan sungguh jelas pernyataan dalam dua hadits di atas berupa lafazh perintah, dan suatu perintah mengandung faidah adanya tuntutan, namun perintah dalam hadits ini tidak berfaidah wajib kecuali jika tuntutan tersebut merupakan perintah yang tegas, dan ketegasan (jazm) ini membutuhkan indikasi yang menunjukkan pada ketegasannya, dan tidak ditemukan dalam dua hadits ini suatu indikasi yang menunjukkan pada perintah wajib, disebabkan adanya keterangan dalam hadits-hadits lainnya yang menunjukkan bolehnya tidak berobat, yakni yang menafikan keterangan wajib dari dua hadits ini.

فقد روى مسلم عن عمران بن حصين أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِي سَبْعُونَ أَلْفًا بِغَيْرِ حِسَابٍ» ، قَالُوا: وَمَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: «هُمُ الَّذِينَ لَا يَكْتَوُونَ وَلَا يَسْتَرْقُونَ، وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ»، والرقية والكي من التداوي. وروى البخاري عن ابْنُ عَبَّاسٍ: قَالَ: … هَذِهِ المَرْأَةُ السَّوْدَاءُ، أَتَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ: إِنِّي أُصْرَعُ، وَإِنِّي أَتَكَشَّفُ، فَادْعُ اللَّهَ لِي، قَالَ: «إِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ وَلَكِ الجَنَّةُ، وَإِنْ شِئْتِ دَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُعَافِيَكِ» فَقَالَتْ: أَصْبِرُ، فَقَالَتْ: إِنِّي أَتَكَشَّفُ، فَادْعُ اللَّهَ لِي أَنْ لاَ أَتَكَشَّفَ، «فَدَعَا لَهَا…». فهذان الحديثان يدلان على جواز ترك التداوي

Dan Imam Muslim telah meriwayatkan dari ‘Imran bin Hushayn bahwa Nabi SAW bersabda:

“Akan masuk surga dari umatku sebanyak 70 ribu orang tanpa hisab.”

Lalu para sahabat berkata: “Siapa mereka wahai Rasulullah SAW?” Rasulullah SAW bersabda:

“Mereka adalah orang-orang yang tidak melakukan pengobatan kay, tidak melakukan ruqyah, dan mereka bertawakkal kepada Rabb mereka.” (HR. Muslim)

Ruqyah dan kay (pengobatan dengan besi panas) termasuk pengobatan, Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Ibn ‘Abbas r.a.: ia berkata:

“Wanita berkulit hitam ini, ia pernah menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sambil berkata: “Sesungguhnya aku menderita epilepsi dan auratku sering tersingkap (ketika sedang kambuh), maka berdoalah kepada Allah untukku.” Beliau SAW bersabda: “Jika kamu berkenan, bersabarlah maka bagimu surga, dan jika kamu berkenan, maka aku akan berdoa kepada Allah agar Allah menyembuhkanmu.” Ia berkata: “Baiklah aku akan bersabar.” Wanita itu berkata lagi; “Namun berdoalah kepada Allah agar (auratku) tidak tersingkap.” Maka beliau mendoakan untuknya.”

Maka dua hadits ini menunjukkan bolehnya tidak berobat.

وكل ذلك يدل على أن الأمر الوارد “فتداووا”، “تداووا” ليس للوجوب، وإذن فالأمر هنا إما للإباحة وإما للندب، ولشدة حث الرسول صلى الله عليه وسلم على التداوي، يكون الأمر بالتداوي الوارد في الأحاديث للندب. وعليه فإن التطعيم حكمه الندب، لأن التطعيم دواء، والتداوي مندوب، إلا أنه إذا ثبت أن نوعاً معيناً من التطعيم ضار كأن تكون مواده فاسدة أو ضارة لسبب ما… فإن التطعيم في هذه الحالة بهذه المواد يكون حراماً وفق قاعدة الضرر من حديث رسول الله صلى الله عليه وسلم الذي أخرجه أحمد في مسنده عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ». غير أن هذه حالات نادرة

Dan semua ini menunjukkan bahwa perintah yang disebutkan dalam ungkapan “maka berobatlah”, “berobatlah” bukan perintah wajib, dengan demikian perintah di sini bisa jadi mubah atau sunnah, dan dengan adanya dorongan kuat Rasulullah SAW untuk berobat, maka perintah berobat yang disebutkan dalam hadits-hadits tersebut merupakan perintah sunnah. Maka dengan demikian vaksinasi hukumnya sunnah, karena vaksinasi termasuk pengobatan, dan berobat hukumnya sunnah, kecuali jika telah dipastikan bahwa jenis tertentu dari vaksin tersebut memang berbahaya misalnya terdapat bahan-bahan kandungan yang merusak atau berbahaya karena suatu sebab… Maka vaksin dalam kasus ini dengan bahan-bahan kandungan seperti ini hukumnya menjadi haram berdasarkan kaidah tentang perkara dharar dari hadits Rasulullah SAW yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya dari Ibn ‘Abbas r.a., ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak boleh membahayakan dan tidak boleh membalas bahaya dengan bahaya.” (HR. Ahmad)

Terlepas dari fakta bahwa kondisi-kondisi (vaksin) ini langka.

Vaksin dalam Daulah Khilafah

وأما في دولة الخلافة فسيكون هناك تطعيم ضد الأمراض التي تقتضي ذلك كالأمراض المعدية ونحوها، ويكون الدواء نقياً من كل شائبة وصافيا، والله سبحانه هو الشافي (وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ). والمعروف شرعاً أن الرعاية الصحية هي من الواجبات على الخليفة من باب رعاية الشئون عملاً بقول الرسول صلى الله عليه وسلم:  «الإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ وَمَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ» أخرجه البخاري عن عبد الله بن عمر

Dan adapun kebijakan dalam Daulah Khilafah, maka akan ada program vaksinasi untuk mengatasi penyakit-penyakit yang memang membutuhkannya, misalnya penyakit-penyakit endemik (wabah) dan yang semisalnya, begitu pula dengan ketersediaan obat yang bersih dari segala bahan-bahan yang najis dan sifatnya suci, dan hakikatnya Allah SWT yang Maha Menyembuhkan:

“Dan jika aku sakit, Dialah Allah yang menyembuhkanku” (TQS. Asy-Syu’araa [26]: 80)

Dan telah diketahui secara syar’i bahwa pemeliharaan urusan kesehatan termasuk kewajiban Khalifah diantara fungsi pemeliharaan urusan-urusan rakyat mengamalkan pesan Rasulullah SAW:

 “Imam itu adalah penggembala dan ia bertanggungjawab atas gembalaannya (rakyatnya)”(HR. al-Bukhari dari ‘Abdullah bin ‘Umar)

وهذا نص عام على مسؤولية الدولة عن الصحة والتطبيب لدخولهما في الرعاية الواجبة على الدولة. وهناك أدلة خاصة على الصحة والتطب

أخرج مسلم من طريق جابر قال: «بَعَثَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ طَبِيبًا فَقَطَعَ مِنْهُ عِرْقًا ثُمَّ كَوَاهُ عَلَيْهِ».  وأخرج الحاكم في المستدرك عن زيد بن أسلم عن أبيه قال: «مَرِضْتُ فِي زَمَانِ عُمَرَ بِنَ الْخَطَّابِ مَرَضاً شَدِيداً فَدَعَا لِي عُمَرُ طَبِيباً فَحَمَانِي حَتَّى كُنْتُ أَمُصُّ النَّوَاةَ مِنْ شِدَّةِ الْحِمْيَةِ

فالرسول صلى الله عليه وسلم بوصفه حاكماً بعث طبيباً إلى أبيّ، وعمر رضي الله عنه الخليفة الراشد الثاني دعا بطبيب إلى أسلم ليداويه، وهما دليلان على أن الصحة والتطبيب من الحاجات الأساسية للرعية التي يجب على الدولة توفيرها مجاناً لمن يحتاجها من الرعية

Dan ini adalah nash umum atas tanggungjawab negara terhadap kesehatan dan pengobatan, untuk memasukkan keduanya bagian dari urusan pemeliharaan yang wajib dipenuhi oleh negara. Dan ada pula dalil-dalil khusus atas kewajiban pengurusan kesehatan dan pengobatan:

Dikeluarkan oleh Imam Muslim dari jalur Thariq bin Jabir, ia berkata: “Rasulullah SAW telah mengutus seorang dokter kepada ‘Ubay bin Ka’ab, kemudian dokter ini memotong pembuluh darahnya kemudian membakarnya dengan besi panas (pengobatan dengan kay).”

Dan dikeluarkan oleh Imam al-Hakim dalam Al-Mustadrak dari Zaid Bin Aslam dari bapaknya, ia berkata: “Saya menderita sakit dengan rasa sakit yang sangat pada masa Khalifah Umar bin al-Khaththab, lalu ‘Umar mengutus seorang dokter kepadaku, dan ia merawatku sehingga aku menghisap biji-bijian sebagai bagian dari ketatnya aturan makan (diet).”

Maka Rasulullah SAW dengan sifatnya sebagai penguasa mengutus dokter kepada ‘Ubay bin Ka’ab, begitu pula ‘Umar bin al-Khaththab r.a. yang merupakan al-khalifah ar-Raasyid yang kedua mengutus dokter kepada Aslam untuk mengobatinya, dan keduanya adalah dalil bahwa kesehatan dan pengobatan termasuk kebutuhan primer bagi rakyat, dimana wajib bagi negara untuk menjaminnya secara cuma-cuma bagi rakyat yang membutuhkannya. (Syaikh Atha Abu Rasytah)

🌸🍃 Sebar Ilmu, Raup Pahala Besar..

Instagram : www.instagram.com/ngaji_fiqh

Facebook : www.facebook.com/MuhammadRivaldyAbdullah

WhatsApp : +201019133695 (Nomor Mesir)

Telegram : Ngaji FIQH
https://telegram.me/ngajifiqh

Blog : lisanulama.blogspot.com

Minggu, 11 Maret 2018

APA ITU THOGUT ???

APA ITU THOGUT  ???

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Thaghut adalah segala yang dilampaui batasnya oleh hamba, baik itu yang diikuti atau ditaati atau diibadati. Thaghut itu banyak, apalagi pada masa sekarang. Adapun pentolan-pentolan thaghut itu ada 5, di antaranya:
1.   Syaithan
Syaitan yang mengajak ibadah kepada selain Allah. Adapun tentang makna ibadah tersebut dan macam-macamnya telah anda pahami dalam uraian sebelumnya. Syaitan ada dua macam: Syaitan Jin dan Syaitan Manusia. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الإنْسِ وَالْجِنِّ
“Dan begitulah Kami jadikan bagi tiap nabi musuhnya yang terdiri dari syaitan-syaitan manusia  dan jin”  (QS. Al An’am [6]: 112)
Dan firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala:
الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ (٥) مِنَ الْجِنَّةِ وَ النَّاسِ
“Yang membisikkan kedalam  dada-dada manusia, dari golongn jin dan manusia” (QS. An Naas [114]: 5-6)
Orang mengajak untuk mempertahankan tradisi tumbal dan sesajen, dia adalah syaitan manusia yang mengajak ibadah kepada selain Allah.
Tokoh yang mengajak minta-minta kepada orang yang sudah mati adalah syaitan manusia dan dia adalah salah satu pentolan thaghut.
Orang yang mengajak pada system demokrasi adalah syaitan yang mengajak ibadah kepada selain Allah, dia berarti termasuk thaghut.
Orang yang mengajak menegakkan hukum perundang-undangan buatan manusia, maka dia adalah syaitan yang mengajak beribadah kepada selain Allah.
Orang yang mengajak kepada paham-paham syirik (seperti: sosialis, kapitalis, liberalis, dan falsafah syirik lainnya), maka dia adalah syaitan yang mengajak beribadah kepada selain Allah, sedangkan Dia Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَنْ لا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
“Bukankan Aku memerintahkan kalian wahai anak-anak Adam: “Janganlah ibadati syaitan, sesungguhnya ia adalah musuh yang nyata bagi kalian” (QS. Yaasin [36]: 60)
2.   Penguasa Yang Zhalim
Penguasa zhalim yang merubah aturan-aturan (hukum) Allah, thaghut semacam ini adalah banyak sekali dan sudah bersifat lembaga resmi pemerintahan negara-negara pada umumnya di zaman sekarang ini. Contohnya tidaklah jauh seperti parlemen, lembaga inilah yang memegang kedaulatan dan wewenang pembuatan hukum/undang-undang. Lembaga ini akan membuat hukum atau tidak, dan baik hukum yang digulirkan itu seperti hukum Islam atau menyelisihinya maka tetap saja lembaga berikut anggota-anggotanya ini adalah thaghut, meskipun sebahagiannya mengaku memperjuangkan syari’at Islam. Begitu juga Presiden/ Raja/Emir atau para bawahannya yang suka membuat SK atau TAP yang menyelisihi aturan Allah, mereka itu adalah thaghut.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Di kala seseorang menghalalkan yang haram yang telah diijmakan atau merubah aturan yang sudah diijmakan, maka dia kafir lagi murtad dengan kesepakatan para fuqaha”  (Majmu Al Fatawa)
Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya para anggota parlemen itu adalah thaghut, tidak peduli darimana saja asal kelompok atau partainya. Presiden dan para pembantunya, seperti menteri-menteri di negara yang bersistem syirik adalah thaghut, sedangkan para aparat keamanannya adalah sadanah (juru kunci) thaghut apapun status kepercayaan yang mereka klaim.
Orang-orang yang berjanji setia pada system syirik dan hukum thaghut adalah budak-budak (penyembah/hamba) thaghut. Orang yang mengadukan perkaranya kepada pengadilan thaghut disebut orang yang berhukum kepada thaghut, sebagaimana firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala:
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ
“Apakah engkau tidak melihat kepada orang-orang yang mengaku beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu dan apa yang dturunkan sebelum kamu, sedangkan mereka hendak berhukum kepada thaghut, padahal mereka telah diperintahkan untuk kafir terhadapnya” (QS. An Nisaa’ [4]: 60)
3.  Orang yang memutuskan dengan selain apa yang telah Allah turunkan.
Kepala suku dan kepala adat yang memutuskan perkara dengan hukum adat adalah kafir dan termasuk thaghut. Jaksa dan Hakim yang memvonis bukan dengan hukum Allah, tetapi berdasarkan hukum/undang-undang buatan manusia, maka sesungguhnya dia itu Thaghut. Aparat  dan pejabat yang memutuskan perkara berdasarkan Undang Undang Dasar thaghut adalah thagut juga. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
“Dan siapa saja yang tidak memutuskan dengan apa yang Allah turunkan, maka merekalah orang-orang kafir itu” (QS. Al Maidah [5]: 44)
Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Siapa yang meninggalkan aturan baku yang diturunkan kepada Muhammad Ibnu Abdillah penutup para nabi dan dia justru merujuk pada aturan-aturan (hukum) yang sudah dinasakh (dihapus), maka dia telah kafir. Apa gerangan dengan orang yang merujuk hukum Ilyasa (Yasiq) dan lebih mendahulukannya daripada aturan Muhammad maka dia kafir berdasarkan ijma kaum muslimin” (Al Bidayah: 13/119).
Sedangkan Ilyasa (Yasiq) adalah hukum buatan Jengis Khan yang berisi campuran hukum dari Taurat, Injil, Al Qur’an.
Orang yang lebih mendahulukan hukum buatan manusia dan adat daripada aturan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka dia itu kafir.
Dalam ajaran Tauhid, seseorang lebih baik hilang jiwa dan hartanya daripada dia mengajukan perkaranya kepada hukum thaghut, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ
“Fitnah (syirik & kekafiran) itu lebih dahsyat dari pembunuhan” (QS. Al Baqarah [2]: 191)
Syaikh Sulaiman Ibnu Sahman rahimahullah berkata: “Seandainya penduduk desa dan penduduk kota perang saudara hingga semua jiwa musnah, tentu itu lebih ringan daripada mereka mengangkat thaghut di bumi ini yang memutuskan (persengketaan mereka itu) dengan selain Syari’at Allah” (Ad Durar As Saniyyah: 10 Bahasan Thaghut)
Bila kita mengaitkan ini dengan realita kehidupan, ternyata umumnya manusia menjadi hamba thaghut dan berlomba-lomba meraih perbudakan ini. Mereka rela mengeluarkan biaya berapa saja (berkolusi; menyogok/risywah) untuk menjadi Abdi Negara dalam sistem thaghut, mereka mukmin kepada thaghut dan kafir terhadap Allah. Sungguh buruklah status mereka ini…!!
4.  Orang yang mengaku mengetahui hal yang ghaib selain Allah.
Semua yang ghaib hanya ada di Tangan Allah, Dia Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
عَالِمُ الْغَيْبِ فَلا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا
“Dialah Dzat yang mengetahui hal yang ghaib, tetapi Dia tidak menampakan yang ghaib itu kepada seorangpun” (QS. Al Jin [72]: 26)
Bila ada orang yang mengaku mengetahui hal yang ghaib, maka dia adalah thaghut, seperti dukun, paranormal, tukang ramal, tukang tenung, dsb. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa orang yang mendatangi dukun atau tukang ramal dan dia mempercayainya, maka dia telah kafir, dan maka apa gerangan dengan status si dukunnya itu sendiri…?! tentu lebih kafir lagi…
5. Orang yang diibadati selain allah dan dia ridha dengan peribadatan itu.
Orang yang senang bila dikultuskan, sungguh dia adalah thaghut. Orang yang membuat aturan yang menyelisihi aturan Allah dan Rasul-Nya adalah thaghut.
Orang yang mengatakan “Saya adalah anggota badan legislatif” adalah sama dengan ucapan: “Saya adalah Tuhan”, karena orang-orang di badan legislatif itu sudah  merampas hak khusus Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yaitu hak membuat hukum (undang-undang). Mereka senang bila hukum yang mereka gulirkan itu ditaati lagi dilaksanakan, maka mereka adalah thaghut. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَمَنْ يَقُلْ مِنْهُمْ إِنِّي إِلَهٌ مِنْ دُونِهِ فَذَلِكَ نَجْزِيهِ جَهَنَّمَ كَذَلِكَ نَجْزِي الظَّالِمِينَ
“Dan barang siapa yang mengatakan di antara mereka; “Sesungguhnya Aku adalah Tuhan selain Allah” maka Kami membalas dia dengan Jahannam, begitulah Kami membalas orang-orang yang zalim” (QS. Al Anbiya [21]: 29)
Itulah tokoh-tokoh thaghut di dunia ini…
Orang tidak dikatakan beriman kepada Allah sehingga dia kufur kepada thaghut, kufur kepada thaghut adalah separuh Laa ilaaha ilallaah. Thaghut yang paling berbahaya pada masa sekarang adalah thaghut hukum, yaitu para penguasa yang MEMBABAT aturan Allah, mereka menindas umat ini dengan besi dan api, mereka paksakan kehendaknya, mereka membunuh, menculik, dan memenjarakan kaum muwahhidin yang menolak tunduk kepada hukum mereka. Akan tetapi anehnya banyak orang yang mengaku beragama Islam berlomba-lomba untuk menjadi budak dan hamba mereka. Mereka juga memiliki ulama-ulama jahat yang siap mengabdikan lisan dan pena demi kepentingan ‘tuhan’ mereka.
Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala cepat membersihkan negeri kaum muslimin dari para thaghut dan kaki tangannya, Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin[1]
[1] (Tulisan ini merupakan syarah/penjelasan singkat dari Risalah fie Ma’na Thaghut karya Al-Imam Al-Mujaddid Syaikh Muhammad ibnu ‘Abdil Wahhab rahimahullah , ed.)

ISLAM TERORIS ?

Mengenang :
#~*Pengkhianatan Terhadap Saudara Kami Di Maluku* ~

Tahun 1999.   Islam di Maluku. Wahai Umat Kristen, ketahuilah "kami tidak akan pernah melupakan PENGKHIATAN kalian terhadap saudara kami Umat Islam Maluku !"

Di Maluku, Tanpa pernah diduga sebelumnya orang-orang Kristen tega menyerbu habis-habisan umat Islam yang tak tahu apa-apa dan selama ini selalu berbaik sangka pada mereka."

Terlebih lagi mereka salibis-salibis haus darah itu melakukan penikaman habis-habisan ketika umat Islam sedang merayakan hari raya Idul Fitri (Tahun 1999).

Yang lebih menyakitkan lagi adalah disaat mereka sedang asyik melakukan pembersihan massal terhadap umat Islam disana, sebagian kalangan Kristen yang memang sejak dulu dikenal memiliki lobby-lobby yang kuat justru melemparkan fitnah keji ke dunia internasional, bahwa justru umat Kristen yang diserang dan dibantai oleh orang-orang Islam.

Untunglah, bermacam metode pembuktian siapa yang benar dan siapa yang bersalah di Maluku bisa diteliti dengan baik.

Karena dari penelitian dari sudut manapun sudah jelas, bahwa orang-orang Kristenlah yang berkepentingan untuk melakukan pembantaian terhadap umat Islam, karena memang mereka merasa terdesak akibat alasan ekonomis dsb.

Apalagi ditopang dengan dorongan nafsu keji gerakan separatis RMS (Republik Maluku Selatan) yang telah berjuang selama puluhan tahun untuk melepaskan diri dari NKRI. Namun sayangnya perjuangan illegal mereka itu kurang mendapat tanggapan positif dari umat Islam.

Sebagian besar umat Islam menentang gerakan mereka dan tetap setia berlindung di bawah bendera NKRI.

 Hal ini membuat RMS geram dan menghasut orang-orang Kristen di Maluku untuk membunuhi umat Islam, atau setidaknya bisa ditakut-takuti supaya mereka muslim-muslim transmigran yang berasal dari Jawa, Sulawesi dsbnya segera pulang ke daerah asalnya.

Tujuan mereka mengusir umat Islam untuk keluar dari sana adalah supaya persentase umat Kristen di Maluku menjadi meningkat dan Muslim menurun.

Harapan mereka apabila sewaktu-waktu perjuangan mereka mengalami kemajuan dan berhasil memaksa pemerintah RI untuk melakukan referendum, sebagian besar penduduk Maluku akan memilih merdeka, menuruti keinginan RMS karena penduduk muslim yang selama ini anti melepaskan diri dari NKRI sudah dibunuhi atau diusir keluar dari Maluku.

Dalam kerusuhan Ambon, target bunuh pertama orang-orang Kristen itu adalah para ulama, lalu orang-orang Arab, pemuka-pemuka Islam, yang keempat barulah BBM (Buton, Bugis, Makasar).

Ternyata setelah 'BBM' ini banyak yang mengungsi ke kampungnya, ternyata orang-orang Kristen itu tetap memerangi orang-orang Ambon yang Muslim.

Ini terjadi di Pelauw. BBM ternyata bukan sekedar Buton, Bugis, Makasar, tapi lebih kepada "Bakar, Bunuh Muslim"! Itu pengertian BBM sekarang ini, sebab hal tersebut terus saja berjalan selama beberapa tahun lamanya.

Ujian yang dialami kaum Muslimin di Karang Tagepe tidak kalah beratnya. Rumah dan kampung mereka habis dibakar oleh orang-orang kafirin.

 Di sana, menurut mereka, wanita-wanita Muslimah yang sedang hamil dibedah perutnya. Lalu dikeluarkan janinnya, dan dicincang-cincang.

Anak-anak kecil yang lari ketakutan dan berusaha menyelamatkan diri ditangkapi lalu dilempar ke dalam api yang6 menyala. Jerit tangis bocah-bocah mungil (anak-anak kecil) itusangat menyayat hati. Perlakuan iblis itu dilakukan orang-orang Kristen di sana atas nama agamanya.

Gadis-gadis Muslimah diperkosa beramai-ramai. Payudaranya ditoreh tanda salib dengan parang, lalu dipotong.

Setelah puas, barulah dibunuh. Banyak di antara para Muslimah yang sudah syahid sebelum dibunuh kaum kafirin. Rasa sakit yang tak terperikan menghentikan detak jantungnya. Semoga Allah SWT berkenan menerima mereka di syurga seperti dijanjikanNya.

Kejadian yang berlangsung di Rumah Sakit Umum (RSU) di daerah Kudamati juga memilukan.

Karena terjadi penyerangan di hari pertama, banyak orang Islam terluka. Mereka dibawa ke RSU di Kudamati.

 Walau mereka tahu Kudamati merupakan basis Kristen, namun mungkin disebabkan lebih dekat maka mereka ke sana.

 Para penyerang itu diberitahu bahwa orang Islam banyak yang dirawat di RSU tersebut.

Akhirnya orang-orang Kristen itu menyerang RSU. KTP-KTP (kad pengenalan) pasien (pesakit) digeledah untuk mengetahui pasien tersebut Islam atau non-Islam. Jika si pasien Islam maka langsung dibantai.

 Ibu-ibu hamil yang ada di rumah sakit itu pun banyak yang hilang, mendengar kejadian tersebut, akhirnya banyak orang yang berobat ke Rumah Sakit Bersalin (RSB) yang ada di dalam kompleks Masjid Raya Al-Fatah.

RSB Al-Fatah beralih fungsi menjadi Rumah Sakit Umum. Banyak lagi kekejaman-kekejaman yang dilakukan oleh Kristen-Kristen biadab disana terhadap umat Islam.

Kaum Muslimin Buton, Bugis, dan Makasar yang pulang ke daerahnya sesungguhnya hanya untuk mengantar anak dan istrinya saja ke tempat tinggal yang aman. Setelah itu mereka akan kembali semua ke Ambon bersama sanak famili yang laki-laki. Mereka akan mempertahankan Ambon sampai tetes darah terakhir. Mereka sudah bertekad untuk jihad fi sabilillah.

Penyerangan orang-orang Kristen kepada umat Islam di Ambon dan sekitarnya bukanlah tindakan kriminal murni. Mereka melihat itu sebagai bagian dari perang sucinya.

*PEMBANTAIAN MUSLIM POSO !*

Sementara itu di Poso, Sulawesi Tengah, Kristen-Kristen haus darah disana pun tidak mau kalah dengan saudara sesama iblisnya di Maluku. Mereka membantai seribu lebih umat Islam disana pada tahun 2000.

Bukannya berterima kasih karena selama ini umat Kristen yang menjadi minoritas di kantong-kantong Islam seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Makassar dll telah dibiarkan untuk hidup dan bernafas dengan nyaman oleh umat Islam, namun di daerah-daerah terpencil dimana jumlah orang Kristen cukup signifikan mereka justru dengan buasnya membantai umat Islam.

 Tak terkecuali di Poso, telah seribu lebih umat Islam dibunuh oleh orang-orang Kristen haus darah.

Tak peduli laki-laki, wanita maupun anak-anak, siapapun yang beragama Islam disana dihabisi oleh Pasukan Ninja bertuhankan Yesus Kristus itu. Sama seperti ketika Salibis Kristen membantai umat Islam tanpa pandang bulu ketika menaklukan Yerusalem tahun 1099, Kristen Poso pun sama saja, cuma menapaktilasi pembantaian biadab, ciri khas agama Kristen itu.

Para gembong pelaku penyerangan itu sendiri seperti Fabianus Tibo dan Dominggus Soares sudah mengakui kejahatannya dan kini telah divonis mati, menunggu di eksekusi.(waktu itu..dan sekarang sudah dieksekusi )

Padahal di Poso populasi umat Kristen -sebelum kerusuhan- hanya 25%, sedangkan umat Islam adalah mayoritas, hampir 75%. Namun karena umat Islam selama ini selalu berbaik sangka dan tidak pernah menduga bahwa orang-orang Kristen akan menyerbu umat Islam ketika mereka sedang lengah (tertidur lelap), maka episode horror pembantaian yang disutradarai dan dilakoni sendiri oleh Kristen-kristen BIADAB HAUS DARAH Poso itu berlangsung sukses.

Ini merupakan pelajaran berharga bagi kita umat Islam. Karena ternyata walaupun dengan hanya berjumlah 25%, orang Kristen di Poso sudah berani melakukan penyerangan dan pembantaian terhadap umat Islam yang mayoritas.

Di Jakarta kini kalau tidak salah populasi Kristen berjumlah hampir 15%, sedangkan umat Islam hampir 85%.

 Ini berarti orang Kristen hanya perlu menambah beberapa persen lagi jumlah mereka di Jakarta, sehingga ambisi mereka untuk mem-Poso-kan Jakarta bisa segera kesampaian.

Asalkan mereka telah mempersiapkan strategi penyerangannya dengan jitu, seperti yang telah dipraktekkan di Poso, maka bersiap-siaplah kita umat Islam untuk LAGI-LAGI dibantai secara biadab oleh orang Kristen walaupun kita di Jakarta ini adalah mayoritas, sama seperti di Poso.

Orang Kristen bisa menambah persentase jumlah mereka di Jakarta dengan berbagai cara.

Misalnya : dengan melakukan Kristenisasi secara paksa -yang memang sudah biasa dilakukan-, atau mendatangkan, menyusupkan secara pelan-pelan atau terang-terangan orang-orang Kristen dari wilayah basis-basis Kristen di Indonesia seperti Maluku, Papua, Kupang, Flores, Tapanuli, Toraja, Manado dll.

Dengan mudahnya mereka pun bisa saja mendatangkan kembali preman-preman Ambon yang dulu pernah bikin rusuh di Ketapang dan telah diusir keluar dari Jakarta tahun 1998.

 Setelah pulang dengan membawa dendam terhadap umat Islam preman-preman itu pun melakukan kerusuhan di Ambon dan membantai umat Islam disana beberapa bulan kemudian.

Kalau Kristen sudah berhasil menambah sedikit saja lagi populasinya di Jakarta sehingga persentase jumlahnya menjadi setidaknya 25%, bersiaplah kita umat Islam di kota Jakarta, ibukota kita yang tercinta ini untuk "di-Poso-kan" .. Waspadalah! Waspadalah!!!

Laporan US Comitte of Refugees tentang Indonesia yang diterbitkan Januari 2001 menyebutkan dalam kerusuhan/konflik Poso yang terjadi selama tiga tahun belakangan ini, pihak Muslim telah menderita secara tidak seimbang.

 Dalam laporan itu disebutkan, jumlah pengungsi akibat konflik Poso kini sebanyak hampir 80.000 orang, dan diperkirakan 60.000 orang adalah Muslim.

Para pengungsi ini hidup menderita tanpa kejelasan masa depan mereka; dan mereka kehilangan hak-haknya berupa tanah, kebun coklat, cengkih, kopra, rumah, harta benda, bahkan nyawa sanak-saudaranya. Bantuan makanan, obat-obatan sangat terbatas, sehingga penyakit senantiasa menghantui mereka. Bantuan hukum umtuk meminta keadilan praktis tidak ada.

 Bahkan, nyawa mereka terancam setiap saat, karena diserang pasukan kelelawar Merah (Kristen pada malam hari, walau barak-barak pengungsi dijaga oleh polisi (Republika, 4 September 2001).

Bila mengingat awal tragedi Poso, sebagian kita terfokus pada pesantren Walisongo dan seluruh penghuninya yang dihabisi Tibo cs.

 Padahal, tak hanya wilayah Tagolu (lokasi pesantren tersebut) saja yang berkobar.

Yang lebih mengkhawatirkan sekali adalah kondisi geografis kaum Muslimin Poso yang terjepit. Rentang jalur Palu-Poso mayoritas dikuasai pihak Kristen.

Sementara jalur Poso-Ampana juga dikelilingi desa-desa Kristen. Dan, sepanjang trans Tagolu-Pindolo adalah hunian kelompok merah.

Ketika terjadi pembantaian besar-besaran terhadap umat Islam Poso, pihak Kristen sengaja mengisolir wilayah Poso kota dari jangkauan aparat. Jalur segitiga tadi mereka kepung dan halangi dengan pepohonan yang ditumbangkan.

Sehingga, aparat gagal mencapai Poso. Namun dalam kondisi yang demikian, berkat pertolongan Allah Ta'ala kaum Muslim Poso berhasil mempertahankan wilayahnya.

Gejolak nafsu pihak Kristen untuk melumat habis Muslimin Poso tetap membara. Dengan dukungan pendudukan wilayah yang mengepung Poso, mereka selalu berinisiatif menyerang. 5 unit pos aparat yang ada di Pindolo tak dapat berbuat banyak untuk mengatasi, sebab jalur Tagolu-Pindolo telah mereka jepit.

Ada indikasi kuat bahwa jenazah kaum Muslimin yang selama ini dibantai dibuang di jurang.

Ulah pihak Kristen tak hanya ditujukan kepada kaum Muslimin saja.

 Aparat keamanan yang dianggap menghalangi kebrutalan mereka pun, disikat.

 Seperti tragedi yang menimpa Serka Muslimin, 21 Juni lalu di Tomata kembali mereka beraksi (lihat Patroli).

Tak hanya Mujahidin yang mereka serang. 15 Juni lalu di Sepe Silanca mereka menghadang mobil yang menjemput Habib Sholeh Al Jufri, salah seorang tokoh tarekat di Poso.

Padahal sikap kelompok tarekat selama ini tidak menunjukkan simpati pada perjuangan jihad kaum Muslimin di Poso.

 Makna jihad misalnya, diartikan tidak dengan senjata. Cukup dengan pentungan dan kerikil yang telah 'diisi'. Dengan kesyirikan itulah, pasukan merah hendak dilawan!

Tentu secara teknis perang, kelompok tarekat tidak membahayakan posisi kelompok Kristen. Toh begitu, tetap mereka serang.

Fakta tersebut menunjukkan betapa kuat keinginan mereka untuk menghabisi umat Islam di wilayah Sulawesi Tengah, terutama Poso.

Jadi, jelaslah tragedi ini bukan sekadar konflik memperebutkan jabatan politik atau sentimen antar suku.

Melainkan sebuah grand disain yang rapi untuk menjadikan Poso sebagai lahan banjir darah umat Islam, sebagaimana Maluku.

Untunglah setelah 1 tahun konflik di Maluku dan 2 tahun di Poso, Laskar Jihad berhasil masuk kesana.

Lambat laun keadaan menjadi lebih berimbang, dan umat Islam berhasil mempertahankan diri bahkan mampu memukul balik serangan-serangan Laskar Kristen di kedua wilayah tersebut.

Alhamdulillah dengan demikian hal itu berhasil memaksa pasukan Kristen untuk berunding dan menandatangani perjanjian damai.

Episode pembantaian biadab orang Kristen ketika menyerbu pesantren Walisongo begitu memilukan hati, tentu bagi orang yang masih memiliki hati.(dm)
_______________________________________________

KEJAHATAN KRISTENISASI BAGI KAMI SUDAH TIDAK ASING LAGI KARENA KAMI MENGETAHUI AJARAN-AJARAN KITAB BIBLEnya..

(Ulangan 13: 13-18) Bunuh seluruh isi kota jika ditemukan 1 org saja yg beragama lain..BAKAR seisi kota dan penghuni2nya!
(keluaran 22:20) bantailah manusia yg beragama lain
(hosea13;16) remukkan bayi2 dan belah perud wanita hamil,
(samuel 15;3) bunuh sluru wanita n anak2 tmasuk yg msh nyusu,
(ulangan 20;16) jangan kau biarkan hidup apapun yang bernapas....

TERBUKTI..
AJARAN KASIH TERNYATA HANYA SLOGAN KOSONG BELAKA..

MENGENANG TRAGEDI PEMBANTAIAN UMAT ISLAM MALUKU & POSO...
SEMOGA PENGKHIANATAN KRISTEN TIDAK TERULANG LAGI...