Cerdas berfikir

Cerdas berfikir
ilmu sumber hidup bahagia dunia akhirat

Sabtu, 18 Juli 2026

Amien Rais Sang Bapak Reformasi


MENYUSURI JEJAK SANG BAPAK REFORMASI

(Silaturahim ke Kediaman Prof. Dr. M. Amien Rais)

Sleman, Yogyakarta — Ahad, 12 Juli 2026 Perjalanan hidup sering kali menghadirkan perjumpaan dengan orang-orang yang telah memberi warna bagi sejarah bangsa. Salah satu momen yang layak dikenang itu terjadi pada Ahad, 12 Juli 2026, ketika saya bersama rombongan melakukan kunjungan silaturahim ke kediaman Prof. Dr. M. Amien Rais, salah satu tokoh paling berpengaruh dalam perjalanan demokrasi Indonesia.

Rombongan kami berjumlah 18 orang, terdiri atas 3 peserta dari Bangkalan serta 15 peserta dari Malang, Pasuruan, dan Mojokerto. Sejak awal, kunjungan ini tidak membawa agenda politik maupun organisasi. Tujuannya sederhana namun bermakna, yakni menjalin silaturahim dengan seorang tokoh bangsa yang selama ini hanya kami kenal melalui buku, berita, dan layar televisi.

Bermalam di Jogokariyan

Perjalanan menuju Yogyakarta kami tempuh sejak pagi. Menjelang malam rombongan tiba di Kota Gudeg dan bermalam di penginapan yang berada di lingkungan Masjid Jogokariyan, sebuah masjid yang dikenal luas sebagai salah satu pusat dakwah dan pemberdayaan umat di Yogyakarta.

Malam itu suasana dipenuhi rasa antusias. Kami menyadari bahwa keesokan harinya kami akan bertemu langsung dengan sosok yang selama puluhan tahun menjadi bagian penting sejarah politik Indonesia. Rasa senang, penasaran, dan harap bercampur menjadi satu.

Mengunjungi Rumah Sang Bapak Reformasi

Bagi masyarakat Indonesia, nama Prof. Dr. M. Amien Rais bukanlah nama biasa. Ia dikenal sebagai salah satu pelopor utama Gerakan Reformasi 1998 yang mengakhiri kekuasaan Orde Baru. Karena peran besarnya tersebut, banyak kalangan menjulukinya sebagai Bapak Reformasi. Setelah era reformasi, beliau dipercaya menjabat sebagai Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Republik Indonesia periode 1999–2004 dan pernah menjadi calon Presiden Republik Indonesia pada Pemilu 2004.

Sekitar pukul 09.00 WIB, rombongan tiba di kediaman beliau di kawasan Yayasan Budi Mulia Dua, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kompleks tempat tinggal itu begitu tenang dan asri. Pepohonan rindang, taman yang tertata rapi, serta sebuah pendopo tradisional Jawa menghadirkan suasana teduh dan sederhana. Di kompleks yang sama juga terdapat lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan Yayasan Budi Mulia Dua, mulai dari taman kanak-kanak hingga jenjang pendidikan lainnya.

Di pendopo itulah kami disambut langsung oleh Pak Amien. Penampilannya sangat sederhana. Beliau mengenakan baju koko putih, peci hitam nasional, serta sandal selop. Kesederhanaan itu terasa kontras dengan besarnya posisi yang pernah beliau emban, namun justru menghadirkan kesan hangat dan bersahaja.

Mendengar Langsung Kisah Sejarah

Acara diawali dengan perkenalan satu per satu anggota rombongan. Setelah suasana mencair, Pak Amien mulai bercerita panjang lebar.

Beliau mengisahkan berbagai pengalaman selama berkecimpung di dunia politik nasional, mulai dari masa-masa perjuangan Reformasi 1998, dinamika ketika memimpin MPR, hingga pandangannya terhadap kondisi politik Indonesia saat ini.

Mendengar kisah itu secara langsung menghadirkan pengalaman yang berbeda. Selama ini sejarah hanya saya baca melalui buku atau saksikan lewat dokumenter. Kini, pelaku sejarah itu sendiri yang sedang menceritakannya di hadapan kami.

Berdiskusi Lebih Dekat di Kafe KAKTUS Milik Putranya

Menjelang waktu Zuhur, kami diajak menuju sebuah kafe yang berada di ujung kompleks perumahan. Ternyata kafe tersebut merupakan milik putra beliau, Mumtaz Rais.

Kami dipersilakan menuju ruang privat di lantai dua. Suasana di sana jauh lebih akrab dibandingkan ketika berada di pendopo. Posisi duduk yang berdekatan memberi kesempatan bagi saya untuk berdialog secara langsung dengan Pak Amien.

Sejak berangkat dari rumah, saya memang telah menyiapkan sejumlah pertanyaan yang ingin saya sampaikan. Pertanyaan-pertanyaan itu berkisar tentang Reformasi 1998, pengalaman beliau selama berada di panggung politik nasional, kondisi politik Indonesia dewasa ini, hingga prinsip-prinsip hidup yang selalu beliau pegang.

Sebagian besar pertanyaan memperoleh jawaban yang memuaskan. Namun beberapa pertanyaan justru beliau arahkan kepada perspektif agama dengan mengutip ayat-ayat Al-Qur'an sebagai dasar penjelasan. Saya hanya bisa tersenyum dalam hati. "Benar juga apa yang beliau sampaikan. Hanya saja, saya semula berharap memperoleh jawaban dari sisi politik atau strategi. Ternyata beliau justru mengembalikannya kepada nilai-nilai agama."

Barangkali di situlah letak karakter Pak Amien. Setelah puluhan tahun berkecimpung di dunia politik, pijakan akhirnya tetap kembali kepada ajaran agama.

Menyaksikan Sekolah yang Dibangun dengan Cinta

Seusai makan siang, kami mengira akan kembali ke pendopo untuk berpamitan. Ternyata dugaan itu keliru.

Pak Amien justru mengajak kami berkeliling melihat TK Budi Mulia Dua yang berada di kompleks kediamannya.

Sekolah itu meninggalkan kesan mendalam. Bangunannya bersih, tertata rapi, penuh permainan edukatif berkualitas, dan dirancang benar-benar ramah anak. Terlihat jelas bahwa pendidikan usia dini mendapatkan perhatian yang sangat serius.

Kami kemudian diajak menuju mushala yang berada di lantai atas. Ketika lampu dinyalakan, pandangan kami seketika terpaku.

Kilauan ornamen kristal dan hiasan dekoratif pada langit-langit serta dinding mushala memantulkan cahaya yang indah. Ruangan itu tampak berkilau bak permata. Siapa pun yang memasukinya hampir pasti akan berhenti sejenak untuk menikmati keindahannya.

Mengunjungi Masjid Bergaya Taj Mahal

Perjalanan rupanya belum selesai. Sebelum pulang, kami masih diminta mengunjungi masjid yang berada di kompleks SMP–SMA Budi Mulia Dua, yang berjarak beberapa kilometer dari kediaman beliau.

Semula Pak Amien berencana mengantar kami sendiri. Namun pada saat bersamaan beliau telah dijadwalkan menerima tamu dari Jakarta, yaitu rombongan pimpinan Partai Ummat. Karena itu, kami akhirnya diantar oleh sopir beliau menuju lokasi.

Masjid yang kami kunjungi bernama Masjid Siti Khadijah.

Begitu memasuki halaman, kesan megah langsung terasa. Kubah, lengkungan pintu, serta ornamen bangunannya mengingatkan kami pada arsitektur Taj Mahal di Agra, India.

Pak Amien pernah menjelaskan bahwa desain masjid-masjid yang beliau bangun memang banyak terinspirasi dari keindahan arsitektur Taj Mahal.

Di masjid itulah kami melaksanakan salat Zuhur yang dijamak dengan Asar. Setelah doa bersama selesai dipanjatkan, perjalanan silaturahim kami pun berakhir.

Sebuah Pertemuan yang Layak Dikenang

Silaturahim ini bukan sekadar kunjungan kepada seorang mantan pejabat negara. Lebih dari itu, perjalanan ini menjadi kesempatan langka untuk melihat dari dekat kehidupan seorang tokoh yang telah menjadi bagian penting sejarah Indonesia.

Di balik reputasinya sebagai tokoh politik nasional, saya menemukan sosok yang hidup sederhana, mencintai pendidikan, memberi perhatian besar terhadap pembangunan masjid, serta tetap menjadikan nilai-nilai agama sebagai fondasi dalam memandang kehidupan.

Bagi saya pribadi, perjalanan pada 12 Juli 2026 ini bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga meninggalkan kenangan yang sulit dilupakan. Tidak setiap hari seseorang memperoleh kesempatan duduk berdampingan, berdialog, dan mendengar langsung kisah perjalanan hidup dari seorang tokoh yang turut menentukan arah perjalanan bangsa Indonesia.