Ziarah Intelektual ke Rumah
Bapak Anies Baswedan
Oleh : M Khoirul Amirudin, S.Pd, M.Ag.
Pada hari Ahad, 27 April 2025, sekitar pukul 16.00 WIB, saya memulai perjalanan dari Kamal, Bangkalan menuju Surabaya. Tujuan awal keberangkatan ini adalah untuk berkumpul bersama rombongan dari berbagai kota lain sebelum bersama-sama berangkat ke Jakarta. Kami semua tergabung dalam rombongan program Sober, dan perjalanan ini merupakan bagian dari agenda kunjungan silaturahmi ke beberapa tokoh nasional dan ulama.
Setibanya di Surabaya, kami berkumpul di sekitar kawasan City of Tomorrow (Cito). Rombongan terdiri dari sembilan hingga sepuluh orang peserta, dan kami menumpang sebuah mobil besar jenis Hiace yang cukup nyaman untuk perjalanan jauh. Sekitar pukul 18.00 WIB, kendaraan kami mulai melaju menuju Jakarta, menempuh perjalanan darat semalaman penuh.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 14 jam, akhirnya pada Senin pagi sekitar pukul 08.00 WIB kami tiba di Jakarta. Tujuan pertama kami adalah rumah tokoh nasional yang sangat kami kagumi: Bapak Anies Baswedan. Namun, sesampainya di sana, ternyata waktu kedatangan kami masih terlalu pagi. Rumah beliau belum dibuka untuk menerima tamu.
Untuk menunggu waktu yang tepat, kami memutuskan untuk singgah terlebih dahulu di sebuah masjid terdekat bernama Masjid Bulgair, yang berlokasi tidak jauh dari kediaman beliau. Di sana kami beristirahat sejenak, mandi, berganti pakaian, dan mempersiapkan diri untuk pertemuan yang sangat kami nanti-nantikan.
Setelah semuanya siap, kami berjalan kaki menuju rumah Pak Anies. Sesampainya di sana, kami disambut dengan ramah oleh petugas penjaga rumah beliau. Sambutan hangat dan bersahabat itu langsung mencairkan suasana. Kami dipersilakan masuk ke sebuah rumah joglo yang khas, bangunan tradisional Jawa yang dijadikan sebagai ruang tamu kehormatan oleh beliau.
Sambil menanti kehadiran Pak Anies, kami dijamu dengan suguhan khas yang menggugah selera: secangkir kopi hangat, martabak manis, roti lapis, dan beberapa kudapan ringan lainnya. Semua disajikan dengan penuh kehangatan dan keramahan, membuat kami merasa seperti berada di rumah sendiri.
Selagi menunggu, kami pun memanfaatkan waktu untuk mengabadikan momen berharga ini. Bersama teman-teman rombongan, kami mengambil beberapa foto di sekitar rumah joglo yang sarat nilai budaya dan sejarah tersebut. Suasana yang tenang, arsitektur bangunan yang khas, dan keramahan tuan rumah menjadikan pengalaman ini sangat berkesan dan mempersonalisasi makna silaturahmi dalam bingkai perjalanan intelektual kami ke ibu kota.
Ketika kami sedang asyik berfoto dan mengabadikan momen di halaman rumah joglo yang megah dan penuh nuansa tradisional itu, tiba-tiba sosok yang kami nantikan muncul dari arah gerbang. Ternyata, itulah beliau—Bapak Anies Baswedan—muncul dengan mengenakan kaos olahraga dan peci (kopiah) di kepalanya. Wajahnya tampak masih berkeringat. Rupanya, beliau baru saja tiba di rumah setelah berolahraga pagi dengan bersepeda.
Dengan senyum ramah yang menjadi ciri khasnya, beliau menyapa kami dengan penuh kehangatan, “Assalamu’alaikum, bagaimana kabarnya teman-teman?” Kami pun membalas salamnya dengan penuh semangat dan kekaguman. Beliau kemudian menambahkan sambil tertawa kecil, “Mohon maaf ya, saya belum mandi, jadi belum bisa cipika cipiki dulu ya,” merujuk pada tradisi salaman dan pelukan khas pertemuan hangat.
Meski hanya sejenak, kami sangat bersyukur bisa bertemu langsung dan berjabat tangan singkat dengan beliau sebelum ia pamit sebentar untuk membersihkan diri. Sekitar sepuluh hingga lima belas menit kemudian, Pak Anies kembali hadir di tengah-tengah kami. Kali ini, beliau telah berganti pakaian, tampak segar dan bersemangat. Sambutannya semakin hangat. Dengan senyum khasnya, beliau menyapa kami satu per satu dengan penuh keramahan dan kebapakan, lalu mempersilakan kami duduk di ruang tamu joglo untuk berdiskusi bersama.
Suasana diskusi begitu akrab dan penuh kehangatan. Tak ada sekat antara pemimpin nasional dan rakyat biasa. Yang terasa hanyalah keakraban seorang tokoh bangsa dengan para pemuda yang haus akan ilmu, inspirasi, dan teladan.
Bagi saya pribadi, momen ini sungguh tak ternilai. Saya hanyalah seorang anak muda dari pinggiran Madura, rakyat biasa yang tak pernah membayangkan bisa duduk berdiskusi langsung dengan sosok yang selama ini hanya bisa saya lihat di layar televisi, atau dari kejauhan saat beliau berkunjung ke kota kami. Bahkan, untuk sekadar berfoto dengannya pun biasanya sangat sulit. Namun hari itu, kami tidak hanya bisa melihatnya dari dekat, tapi juga diajak berbincang, mendengarkan pandangannya, dan menyampaikan aspirasi kami.
Kami membahas banyak hal dalam pertemuan tersebut. Mulai dari isu-isu kebangsaan, pendidikan, masa depan generasi muda, hingga pentingnya menjaga idealisme dan integritas dalam perjuangan sosial. Pak Anies berbicara dengan gaya yang tenang, jelas, dan penuh empati. Setiap katanya menambah semangat kami untuk terus belajar dan mengabdi dengan tulus.
Pertemuan ini adalah anugerah besar bagi saya dan teman-teman. Sebuah pengalaman yang tak bisa dinilai dengan materi. Ia akan terus kami kenang sebagai bagian penting dari perjalanan hidup kami, sebuah kisah nyata yang akan kami bawa pulang dan ceritakan kepada orang-orang terdekat kami dengan penuh kebanggaan.
Dalam suasana diskusi yang hangat dan penuh kekeluargaan bersama Bapak Anies Baswedan, saya, Khairul, memberanikan diri untuk menyampaikan beberapa pertanyaan. Ada tiga tema yang saya angkat, sebagai bentuk keresahan sekaligus harapan saya terhadap peran anak muda dalam dunia pengabdian sosial, khususnya yang saya alami sendiri di lingkungan tempat tinggal dan lembaga kami di Madura.
Pertanyaan pertama yang saya lontarkan kepada beliau adalah tentang peran relawan (volunteer). Selama ini, saya dan teman-teman di yayasan serta lembaga pendidikan kami sering berjuang untuk mengajak anak-anak muda turut serta dalam kegiatan sosial—mengajar, membantu administrasi, bahkan mendampingi masyarakat. Namun, saya merasakan adanya tantangan besar: semangat dari anak-anak muda untuk terlibat secara aktif dan konsisten masih tergolong rendah. Banyak yang tertarik di awal, tapi kemudian perlahan menghilang. Saya ingin tahu, bagaimana seharusnya kami memotivasi dan membangun semangat itu?
Pak Anies mendengarkan dengan saksama, lalu memberikan jawaban yang sangat membumi dan penuh kebijaksanaan. Beliau berkata, "Menggerakkan anak muda itu harus paham skala dan tahu bagaimana memprioritaskan. Kita harus sadar bahwa keterlibatan mereka seringkali bersifat temporer—mereka bukan pondasi permanen, melainkan seperti batu pijakan. Suatu saat mereka pasti akan berpindah."
Beliau menekankan bahwa jika kita ingin anak muda bertahan dalam perjuangan sosial, maka kesejahteraan mereka juga harus menjadi bagian dari perjuangan itu. “Mas Khairul,” ujar beliau dengan nada penuh empati, “kalau Mas Khairul ingin mengajak anak muda untuk berjuang bersama, maka Mas Khairul juga harus siap untuk menjamin kehidupan mereka secara layak. Karena kalau kamu ingin mereka konsisten bersama kamu, maka kamu juga harus memikirkan bagaimana mereka bisa hidup layak."
Pak Anies kemudian memberi contoh konkret, “Kalau saya ingin Mas Khairul bekerja penuh untuk saya, maka saya juga harus menjamin kehidupan Mas Khairul agar bisa fokus dan tidak merasa was-was akan kebutuhan hidupnya.” Begitu juga dengan lembaga kami: jika kami ingin anak-anak muda tetap bergabung dan terus mengabdi, maka kami pun harus mampu menciptakan ekosistem yang mendukung kesejahteraan mereka.
Beliau menutup penjelasannya dengan satu kalimat yang sangat dalam maknanya: “Anak muda itu harus tahu mana yang harus diprioritaskan antara keluarga dan pengabdian sosial. Kalau keluarga belum tercukupi, maka lembaga sosial jangan sampai menguras segalanya. Harus seimbang.”
Petuah itu sangat membekas di hati saya. Tidak hanya menjadi nasihat praktis, tetapi juga menyadarkan saya bahwa membangun gerakan sosial bukan hanya soal semangat, tetapi juga soal keberlanjutan dan tanggung jawab atas kesejahteraan para pelakunya. Sebuah pelajaran hidup yang sangat mahal nilainya.
Pertanyaan kedua yang kami ajukan kepada Pak Anies adalah seputar program legendaris yang pernah beliau inisiasi, yaitu Indonesia Mengajar. Saya pribadi merasa sangat terinspirasi dengan program tersebut. Maka saya pun menyampaikan langsung kepada beliau, “Bapak, dulu Bapak adalah penggerak utama Indonesia Mengajar. Kami melihat program itu begitu sukses. Banyak anak-anak muda dari berbagai penjuru negeri, bahkan dari kota-kota besar, berlomba-lomba mendaftarkan diri. Mereka rela ditempatkan di pelosok-pelosok terpencil, jauh dari fasilitas perkotaan, dengan gaji yang sangat minim. Tapi anehnya, mereka justru tampak sangat bersemangat. Apa rahasianya, Pak?”
Pak Anies tersenyum mendengar pertanyaan itu, lalu menjawab dengan tegas dan penuh keyakinan. “Mas Khairul,” katanya, “yang kami tawarkan dulu bukanlah materi. Bukan soal gaji, bukan soal fasilitas. Justru kalau kami menawarkan gaji, itu pasti kalah jauh dibandingkan pekerjaan lain. Bahkan, kalaupun kami menaikkan gajinya berkali-kali lipat, belum tentu mereka mau.”
Beliau lalu menatap kami satu per satu, seolah ingin memastikan bahwa kami benar-benar menangkap makna dari jawabannya. “Yang kami tawarkan adalah pengalaman hidup. Kami mengajak mereka untuk menjadi pahlawan. Kami ajak mereka membayangkan: apakah kamu ingin punya cerita untuk anak-anakmu kelak bahwa kamu pernah mengajar di tempat yang sulit, bahwa kamu pernah menjadi bagian dari perubahan di ujung-ujung Indonesia yang terlupakan? Apakah kamu mau menjadi bagian dari perjuangan yang nyata?”
Pak Anies menjelaskan bahwa semangat inilah yang membakar jiwa para relawan muda itu. Bukan sekadar pekerjaan, bukan pula mencari popularitas. Tapi mereka merasa bahwa ini adalah panggilan jiwa, bentuk kontribusi nyata kepada bangsa. “Itulah yang membuat mereka bangga, Mas Khairul,” ujar Pak Anies dengan nada dalam, “karena mereka tahu bahwa mereka sedang menjadi bagian dari sejarah.”
Saya terdiam sejenak, merenungi kalimat beliau. Ternyata daya tarik yang besar dari Indonesia Mengajar bukanlah angka atau kenyamanan, melainkan nilai perjuangan dan kebanggaan menjadi bagian dari sesuatu yang besar—sesuatu yang bermakna. Sebuah pelajaran berharga lagi bagi saya tentang bagaimana membangun gerakan, bukan dengan iming-iming, tapi dengan misi mulia.
Pertanyaan ketiga yang kami sampaikan kepada Pak Anies adalah sesuatu yang sangat personal bagi saya. Dengan penuh rasa ingin tahu, saya pun memberanikan diri bertanya, “Pak Anies, bagaimana sebenarnya tips dan trik agar bisa diterima beasiswa di perguruan tinggi? Karena saya tahu, Bapak adalah sosok yang berhasil menempuh pendidikan tinggi, bahkan sampai ke luar negeri dengan beasiswa. Saya sangat penasaran, apa rahasia di balik semua itu?”
Saya pun bercerita sedikit, bahwa saya adalah lulusan magister, dan tengah berjuang untuk bisa melanjutkan studi doktoral. Sudah dua kali saya mencoba mendaftar ke program beasiswa LPDP, namun belum berhasil. Harapan saya, semoga dari pertemuan ini saya bisa mendapat pencerahan langsung dari seseorang yang sudah membuktikannya.
Mendengar pertanyaan itu, Pak Anies terlihat tersenyum tipis. Beliau menghela napas sejenak, lalu menjawab dengan tenang dan rendah hati, “Mas Khairul, yang Mas lihat sekarang ini adalah hasil. Keberhasilan. Tapi tentu di balik semua itu, ada perjuangan panjang yang tidak mudah.”
Beliau melanjutkan, “Terus terang, saya sebenarnya agak sungkan bercerita tentang perjuangan masa lalu saya, kecuali memang diminta untuk menceritakannya. Dan kalau memang itu bisa menginspirasi, maka saya akan ceritakan. Dulu, saya mendaftar beasiswa hingga 40 kali, dan ditolak 51 kali. Bisa dibayangkan? Tapi saya terus mencoba.”
Saya dan teman-teman yang mendengarnya langsung terdiam. Tak menyangka bahwa sosok sekelas Anies Baswedan pun pernah mengalami penolakan berkali-kali.
Beliau lalu menegaskan, “Kuncinya cuma satu: tebarkan jalan sebanyak-banyaknya. Jangan terpaku pada satu atau dua peluang saja. Daftarlah ke mana-mana, cari informasi sebanyak mungkin, perbanyak relasi dan jaringan. Insya Allah, dari banyaknya pintu yang kamu ketuk, pasti ada satu yang akan terbuka.”
Kata-kata itu terasa membakar semangat saya. Sederhana, tapi mengandung hikmah yang sangat dalam. Bahwa jalan menuju cita-cita itu bukan tentang keajaiban instan, melainkan tentang ketekunan, keberanian untuk terus mencoba, dan kesabaran menghadapi penolakan.
Dari momen itu, saya merasa seperti mendapat suntikan energi baru. Saya pun semakin bertekad, mudah-mudahan tahun ini adalah saat di mana Allah bukakan pintu beasiswa bagi saya untuk melanjutkan studi S3.
Terima kasih, Pak Anies. Nasihat dan cerita Bapak hari ini sangat membekas di hati saya. Ini bukan sekadar kunjungan, tapi perjalanan spiritual dan intelektual yang memberi arah baru dalam hidup saya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar