MASJID BIRU YANG MEMUKAU
Oeh : Mas Khoirul Amd.
Senja perlahan menuruni langit Istanbul, memoles cakrawala dengan semburat jingga keemasan. Jam menunjukkan pukul enam sore waktu setempat, tanggal 19 Maret 2025. Angin musim semi berhembus lembut, menyapu wajah-wajah lelah namun bahagia dari kami yang baru saja meninggalkan jejak langkah di reruntuhan megah Benteng Konstantinopel. Setelah hampir dua jam berjalan kaki menyusuri jejak sejarah Bizantium yang berserak di balik tembok kota tua, kami akhirnya tiba di pelataran sebuah bangunan yang sejak lama hanya saya kenal lewat buku dan layar kaca—Ayasofya.
Bus wisata kami berhenti di kawasan Sultanahmet, jantung kota tua Istanbul yang sarat sejarah. Dari kejauhan, kubah besar Ayasofya telah tampak menjulang, bersisian dengan Menara Biru Masjid Sultan Ahmed yang tak kalah megah. Derap langkah kami melambat, seperti memberi ruang pada hati untuk mencerna kemegahan yang terpampang di hadapan.
Di sepanjang jalan menuju bangunan ikonik itu, suasana hidup berdetak di antara kios-kios kecil yang menjual aneka cendera mata. Aroma kacang panggang dan teh apel menyeruak dari kedai-kedai mungil, berpadu dengan suara seruan pedagang yang menawarkan gantungan kunci bergambar Bulan Sabit, miniatur Ayasofya, dan syal-syal bertuliskan "Istanbul" dalam berbagai warna.
Bangunan tua itu berdiri gagah dalam keheningan yang khidmat. Di pelatarannya, turis dari berbagai penjuru dunia sibuk mengabadikan momen. Saya menatap ke atas, menyusuri garis lengkung kubah yang dulunya menaungi gereja, lalu berubah menjadi masjid, dan kini—setelah sempat menjadi museum—kembali difungsikan sebagai tempat ibadah umat Islam. Ayasofya bukan sekadar bangunan. Ia adalah saksi dari ribuan tahun perjalanan iman dan peradaban.
Sore itu, kami belum masuk ke dalam Ayasofya. Hanya berdiri di pelatarannya yang luas, kami membiarkan diri larut dalam suasana. Kubah megah dan menara yang menjulang ke langit sore Istanbul seperti membisikkan kisah peradaban yang telah berusia lebih dari seribu tahun. Saya sempat mengabadikan beberapa momen. Klik demi klik, kamera menangkap senyum kami berlatar bangunan bersejarah itu, seolah tak ingin lupa bahwa kami pernah menjejakkan kaki di tempat ini.
Namun langkah kami belum berhenti di sini. Masih ada satu destinasi yang menanti tak jauh dari Ayasofya, hanya dipisahkan oleh halaman luas dan taman yang rapi: Masjid Sultan Ahmed, atau yang lebih dikenal sebagai Blue Mosque—Masjid Biru.
Kami berbelok, meninggalkan pelataran Ayasofya, dan berjalan menuju salah satu masjid termegah di dunia. Masjid Biru dibangun pada masa Sultan Ahmed I, yang memerintah Kekaisaran Utsmaniyah pada awal abad ke-17. Pembangunannya dimulai tahun 1609 dan selesai tahun 1616, dirancang oleh arsitek istana, Sedefkâr Mehmed Ağa, murid dari arsitek legendaris Mimar Sinan. Keunikan Masjid Biru terletak pada enam menaranya—jumlah yang tidak biasa saat itu—dan pada interiornya yang dilapisi lebih dari 20.000 ubin keramik berwarna biru dari İznik, yang memantulkan cahaya dari lebih dari 200 jendela kaca patri, memberikan aura sejuk dan suci.
Itulah mengapa masjid ini dijuluki Blue Mosque. Ikonnya adalah kubah besar yang bertumpuk di antara kubah-kubah kecil, seolah membentuk tarian lengkung menuju langit.
Kami melangkah masuk ke dalam halaman masjid, dengan niat untuk menunaikan buka puasa di dalamnya. Hari itu masih dalam bulan Ramadan, dan suasana religius kental terasa. Karpet merah membentang rapi di dalam masjid, dan beberapa petugas dengan ramah menyambut para jamaah yang datang.
Kami sengaja belum masuk ke Ayasofya karena mendengar bahwa waktu kunjungan bagi wisatawan yang bukan untuk ibadah hanya diperbolehkan di luar waktu shalat, dan dengan harga tiket yang cukup mahal. Sedangkan jika masuk untuk menunaikan shalat, apalagi berjamaah di waktu Isya dan Tarawih, maka bisa dilakukan tanpa biaya. Maka dari itu, kami putuskan untuk menunggu malam. Saat Adzan Isya berkumandang, kami akan kembali.
Sementara itu, di halaman Masjid Biru, kami menyempatkan diri untuk berfoto. Langit sudah mulai meredup, dan cahaya lampu taman mulai menyala lembut, menambah keindahan latar belakang masjid yang luar biasa. Kubah besar yang menjulang, menara-menara runcing yang menembus langit senja, dan langit Istanbul yang berubah warna seperti lukisan, menjadi saksi kebersamaan kami.
Tak lama, adzan Maghrib pun berkumandang—merdu dan menggema. Kami segera menyiapkan buka puasa. Beberapa dari kami mengeluarkan bekal dari tas masing-masing. Air mineral, kurma, dan roti menjadi pengganjal lapar. Sementara itu, pihak masjid juga menyediakan makanan sederhana—kurma manis, irisan apel dan jeruk, dan segelas minuman yang menyegarkan. Ramadan di Turki ternyata terasa hangat dan penuh keberkahan, meski jauh dari kampung halaman.
Setelah berbuka dan berdoa, kami bergegas menuju tempat wudhu di sisi masjid. Airnya sangat dingin namun segar, seolah membasuh bukan hanya tubuh, tapi juga kelelahan dan kerinduan kami akan kedamaian yang hakiki.
Setelah berbuka puasa dengan kurma manis dan air segar, aku melangkah menuju tempat wudhu di sisi Masjid Biru. Di sana, aku mendapati deretan keran kuningan yang menempel pada dinding batu yang telah berusia ratusan tahun. Bangku-bangku marmer yang digunakan untuk berwudhu tampak kokoh meski permukaannya tidak rata, menunjukkan usia dan sejarah panjangnya.
Selesai berwudhu, aku segera memasuki masjid untuk menunaikan shalat Maghrib berjamaah. Meskipun sedikit terlambat dan tertinggal satu rakaat, aku tetap merasa bersyukur dapat bergabung dalam jamaah. Bacaan imam mengalun merdu, mengisi ruang masjid yang luas dengan ketenangan.
Usai shalat, jamaah perlahan bubar. Aku dan teman-teman memanfaatkan momen ini untuk mengabadikan keindahan interior masjid. Kami berfoto dengan latar belakang kubah besar yang dihiasi lebih dari 20.000 ubin İznik berwarna biru, hijau, dan merah, serta lampu gantung yang menerangi ruang dengan cahaya lembut.
Pak Dewan, salah satu anggota rombongan kami, berkata dengan takjub, "Luar biasa ya, di waktu itu belum ada teknologi modern, tapi sudah bisa membuat masjid seindah ini. Luar biasa begitu canggihnya mereka di waktu itu. Padahal alat-alat belum memadai. Tapi ternyata mereka sudah mampu untuk membangunnya dengan semegah ini."
Setelah puas menikmati keindahan masjid, kami keluar ke pelataran. Di sana, kami disambut dengan hidangan nasi kebuli yang telah disiapkan oleh pihak travel. Porsinya besar, lengkap dengan potongan ayam yang menggugah selera. Banyak dari kami yang tidak mampu menghabiskannya karena porsinya yang melimpah.
Selesai makan, kami bersiap untuk melanjutkan perjalanan ke Ayasofya, guna menunaikan shalat Isya dan Tarawih. Malam itu, Istanbul menyuguhkan pengalaman spiritual dan budaya yang tak terlupakan, mengukir kenangan indah dalam perjalanan kami.
RESUME MASJID BIRU ISTAMBUL TURKYE
Masjid Ahmed, lebih dikenal sebagai Masjid Biru (Blue Mosque), adalah salah satu landmark paling ikonik di Istanbul, Turki. Masjid ini tidak hanya menjadi pusat ibadah umat Islam, tetapi juga merupakan simbol keindahan arsitektur Utsmani (Ottoman) dan daya tarik wisata dunia.
Nama resmi: Masjid Sultan Ahmed (Sultan Ahmed Camii dalam bahasa Turki)
Julukan: Masjid Biru (Blue Mosque) — karena interiornya dihiasi dengan lebih dari 20.000 ubin keramik berwarna biru dari İznik.
Lokasi: Berada di kawasan Sultanahmet, Istanbul, tepat di depan Hagia Sophia dan dekat dengan Istana Topkapi.
Pembangunan dan Pendiri
Dibangun oleh: Sultan Ahmed I, seorang sultan muda dari Kesultanan Utsmaniyah.
Arsitek utama: Sedefkâr Mehmed Ağa, murid dari arsitek besar Mimar Sinan.
Tahun pembangunan: Dimulai pada tahun 1609 M dan selesai pada tahun 1616 M, saat Sultan Ahmed I masih berusia sekitar 27 tahun.
Tujuan pembangunan:
Untuk memperlihatkan kejayaan dan kemuliaan Islam serta kekuatan Dinasti Utsmani.
Sebagai bentuk pengabdian dan ibadah Sultan Ahmed I setelah kekalahan dalam Perang dengan Persia.
Untuk menyaingi kemegahan Hagia Sophia, yang sebelumnya adalah gereja besar Byzantium dan telah dijadikan masjid.
Ciri Arsitektur :
Memiliki 6 menara (jumlah yang langka saat itu dan sempat menimbulkan kontroversi karena menyamai jumlah menara Masjidil Haram di Makkah).
Kubah besar di tengah dan banyak kubah kecil di sekelilingnya.
Interior dihiasi ubin İznik berwarna biru dengan motif bunga dan arabesque.
Banyak jendela kaca patri yang memberikan pencahayaan alami yang indah.
Fungsi dan Perkembangan
Fungsi awal: Masjid utama untuk ibadah, juga menjadi bagian dari kompleks yang mencakup madrasah, rumah sakit, dapur umum, karavanserai, dan makam Sultan Ahmed I.
Masih berfungsi sebagai masjid aktif.
Juga merupakan objek wisata internasional; ribuan wisatawan mengunjunginya setiap hari. Pengunjung non-Muslim diperbolehkan masuk di luar waktu salat dan diwajibkan berpakaian sopan.
Kondisi Sekarang :
Masjid ini dalam kondisi terpelihara dengan baik, meski beberapa bagian telah mengalami renovasi dan perbaikan karena usia bangunan. Pemerintah Turki, melalui Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata serta Direktorat Urusan Agama, bertanggung jawab atas pemeliharaan dan pelestariannya. Renovasi besar dilakukan antara tahun 2018–2023 untuk memperkuat struktur dan memperbaiki ornamen dalamnya.
Makna Historis dan Religius :
Masjid Biru menjadi simbol toleransi, seni, dan keagungan Islam di masa kejayaan Turki Utsmani. Juga menjadi simbol spiritual yang menghubungkan sejarah kekhalifahan Islam dengan dunia modern saat ini.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar