Cahaya Malam di Hagia Sophia
Rabu, 19 Maret 2025, menjadi salah satu hari bersejarah dalam hidupku. Setelah sekian lama hanya mengenal Hagia Sophia melalui gambar dan cerita, akhirnya aku berdiri di hadapannya, menyaksikan langsung keagungan bangunan yang telah melewati zaman.
Hari itu, aku bersama teman-teman menunaikan salat Maghrib di Masjid Biru, atau Sultanahmet Camii, yang megah dengan enam menaranya. Suasana Ramadan menambah kekhusyukan ibadah kami. Setelah berbuka puasa bersama di halaman masjid, kami bersiap menuju Hagia Sophia untuk salat Isya dan Tarawih berjamaah.
Dari kejauhan, Hagia Sophia tampak memukau dalam balutan cahaya malam. Lampu-lampu menerangi kubah dan menara, menciptakan siluet yang menawan di langit Istanbul. Aku tak melewatkan kesempatan untuk mengabadikan momen tersebut, merekam keindahan yang selama ini hanya bisa kubayangkan.
Kami memilih waktu salat untuk memasuki Hagia Sophia, karena di luar waktu salat, pengunjung dikenakan biaya masuk.
Kebetulan, hari itu aku bertemu dengan saudara seperjuanganku, Mas Ilham, mahasiswa S2 semester empat di Istanbul. Selama dua tahun tinggal di kota ini, ia telah mengenal seluk-beluknya. Ia menyambut kami dengan hangat dan menjadi pemandu dalam perjalanan kami.
Udara dingin Istanbul terasa menusuk, namun semangat kami tak surut. Dalam perjalanan menuju Hagia Sophia, aku dan Mas Ilham berhenti sejenak di sebuah kedai teh. Kami menikmati segelas teh hangat, yang harganya sekitar 30 lira Turki—sekitar Rp40.000. Meskipun terasa mahal dibandingkan harga di Indonesia, kehangatan teh tersebut sebanding dengan suasana yang kami rasakan.
Setelah itu, kami melanjutkan langkah menuju halaman Hagia Sophia. Di sana, kami bergabung dengan jamaah lainnya untuk menunaikan salat Isya dan Tarawih.
Jejak Langkah di Ayasofya
Langit malam Istanbul membentang luas, dihiasi bintang-bintang yang berkelip di atas dua mahakarya arsitektur: Masjid Biru dan Ayasofya. Di antara keduanya, aku dan Mas Ilham berdiri, membiarkan waktu berjalan lambat. Teman-teman kami telah lebih dahulu memasuki Ayasofya untuk salat isyak, namun kami memilih untuk menikmati momen ini—berdiri di tengah-tengah antara dua bangunan yang menyimpan sejarah panjang peradaban.
Angin malam yang dingin menyapu wajah kami saat kami berpose dan saling memotret di halaman Ayasofya. Di sebelah kanan, Masjid Biru berdiri megah dengan kubah dan menara yang menjulang. Di sebelah kiri, Ayasofya memancarkan cahaya kuning keemasan dari lampu-lampu yang menerangi kubahnya. Air mancur di taman tengah menambah keindahan suasana, menciptakan simfoni visual yang menenangkan jiwa.
Tak terasa, waktu iqomat salat Isya telah tiba. Kami bergegas menuju pintu masuk Ayasofya. Di sana, kami melewati pemeriksaan keamanan yang ketat—mirip dengan prosedur di bandara. Barang-barang kami diperiksa melalui pemindai, dan kami sendiri diperiksa secara manual oleh petugas keamanan. Setelah semua selesai, kami melangkah masuk ke dalam bangunan yang telah berdiri sejak abad ke-6 ini.
Melewati teras dan lorong-lorong batu, kami tiba di ruang utama. Aku melepas sepatuku dan meletakkannya di loker yang tersedia, lalu perlahan melangkah masuk. Di atas pintu utama, masih terlihat mosaik Kaisar Konstantinus yang belum dihapus, menjadi saksi bisu perjalanan panjang bangunan ini dari gereja, masjid, museum, dan kini kembali menjadi masjid.
Di dalam, aku terperangah oleh keindahan arsitektur Ayasofya. Kubah utama yang megah, dengan diameter sekitar 31 meter, tampak melayang di udara, didukung oleh empat pilar besar dan semi-kubah di sekelilingnya. Cahaya lampu gantung yang tergantung dari langit-langit tinggi memantul pada dinding marmer dan mozaik kuno, menciptakan atmosfer yang sakral dan menenangkan.
Aku menyentuh dinding-dinding batu yang telah ada sejak ribuan tahun lalu, merasakan dinginnya marmer yang menyimpan jejak sejarah. Di sekeliling, terdapat kaligrafi Arab besar yang menggantung di pilar-pilar utama, menandakan masa ketika Ayasofya menjadi masjid utama Kekhalifahan Utsmaniyah. Di sisi lain, mosaik-mosaik Bizantium yang menggambarkan tokoh-tokoh Kristen masih terlihat, mencerminkan masa lalu Ayasofya sebagai gereja agung.
Karpet merah yang empuk membentang di seluruh lantai, mengundangku untuk duduk dan merenung. Namun, aku memilih untuk berkeliling terlebih dahulu, mengabadikan setiap sudut dengan kamera dan merekam video sebagai kenangan. Setiap langkah di dalam Ayasofya adalah perjalanan melintasi waktu, menyentuh lapisan-lapisan sejarah yang terpatri dalam batu dan mozaik.
Malam itu, di bawah kubah Ayasofya yang megah, aku merasakan kedamaian yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Sebuah pengalaman spiritual yang akan selalu kuingat sepanjang hidup.
Di Bawah Kubah yang Menyimpan Waktu
Langkah kakiku menyentuh karpet merah yang terbentang megah di lantai Hagia Sophia—Ayasofya, dalam lidah Turki. Jantungku berdegup pelan, seolah mengatur ritme dengan gema takbir yang mulai terdengar dari mikrofon masjid. Malam itu, aku tak sekadar melangkah ke dalam bangunan batu dan sejarah. Aku sedang menembus lorong waktu.
Mataku menatap lekat ke arah imaman. Di atasnya, samar-samar tampak figur Bunda Maria yang menggendong bayi Yesus. Sosok itu tidak dihapus, hanya ditutupi dengan kain—seperti rahasia yang tidak ingin dibongkar, atau barangkali penghormatan terhadap masa lalu. Di keempat sisi kubah, terlihat bayangan lukisan para malaikat—seraphim yang masih bertahan sejak masa Bizantium. Semua itu membuatku bertanya-tanya dalam hati: mengapa Sultan Mehmed II, sang penakluk, tidak menghapus semua ini saat ia menaklukkan Konstantinopel?
Mungkin, pikirku, inilah wajah Islam yang sejati: bukan pemusnah peradaban, tetapi penjaga warisan seni dan budaya selama tidak bertentangan dengan akidah.
Aku mencoba membayangkan hari ketika sang sultan pertama kali melangkah ke tempat ini, pada tanggal 29 Mei 1453. Kota Konstantinopel baru saja jatuh ke tangan pasukannya setelah pengepungan yang menakjubkan, dan Ayasofya menjadi simbol dari takluknya ibu kota Kekaisaran Romawi Timur ke tangan Islam.
Namun sejarah Hagia Sophia dimulai jauh sebelum itu. Bangunan ini pertama kali didirikan oleh Kaisar Konstantinus II, lalu dibangun ulang oleh Kaisar Theodosius II setelah mengalami kebakaran. Tapi bentuk agung yang sekarang ini adalah hasil karya Kaisar Justinianus I, yang memerintahkan pembangunan ulangnya pada tahun 532 M, dan diresmikan pada 27 Desember 537 M. Selama berabad-abad, Hagia Sophia menjadi gereja katedral terbesar di dunia, simbol kejayaan Kekaisaran Bizantium dan pusat Kekristenan Ortodoks.
Ketika Sultan Mehmed II menaklukkannya, ia tak menghancurkan bangunan ini. Sebaliknya, ia menyulapnya menjadi masjid. Ia menambahkan mimbar, mihrab, dan menara—tanda-tanda baru peradaban Islam, berdampingan dengan mosaik dan arsitektur Kristen yang tetap dijaga.
Berabad kemudian, di tahun 1935, Mustafa Kemal Atatürk, pendiri Republik Turki modern, mengubah statusnya menjadi museum. Sebuah langkah sekuler yang menghapus simbol-simbol keagamaan dari ruang publik. Namun sejarah belum berhenti. Pada 10 Juli 2020, di bawah kepemimpinan Presiden Recep Tayyip Erdoğan, Hagia Sophia resmi dikembalikan sebagai masjid, dan dibuka kembali untuk salat Jumat pada 24 Juli 2020. Saat itu, gema takbir kembali memenuhi ruang yang pernah bisu selama hampir satu abad.
Kini aku berdiri di tengah pusaran sejarah itu. Tidak sekadar sebagai turis atau penikmat arsitektur, tapi sebagai seorang muslim yang merasakan denyut peradaban dalam tiap batu yang kusentuh. Di sinilah saksi bisu peralihan kekuasaan dunia berdiri. Bangunan yang menjadi rebutan banyak bangsa, yang kini kembali menjadi tempat sujud umat Islam, dan menjadi simbol bahwa Islam bukan sekadar kekuatan militer, tetapi juga kekuatan budaya dan peradaban.
Aku mengangkat kamera, lalu merekam sekeliling. Dinding-dinding marmer itu, langit-langit yang tinggi, lampu gantung raksasa, kaligrafi-kaligrafi raksasa bertuliskan nama Allah, Nabi Muhammad, dan para sahabat—semuanya menjadi saksi. Dan aku, hari ini, menjadi bagian dari kisah panjang itu.
Ayasofya bukan sekadar bangunan. Ia adalah kitab sejarah yang terbuka. Dan aku sedang membacanya, dengan mata penuh kagum, hati penuh syukur.
Di Dalam Napas Ayasofya
Aku menyusuri setiap sudut Ayasofya seperti sedang mencari jejak-jejak yang tertinggal dari ribuan tahun sejarah. Tak kuhiraukan sorot mata petugas keamanan yang berdiri tak jauh dari tempatku berjalan. Mungkin baginya aku hanya seorang turis penasaran, seorang pengembara yang tengah larut dalam kekaguman akan keagungan arsitektur ini. Ia menatapku sejenak, lalu kembali memalingkan wajah, membiarkanku tenggelam dalam langkah-langkah yang menggema lembut di atas karpet merah.
Aku menelusuri lorong, menyentuh pilar-pilar batu yang menjulang, mengamati mosaik-mosaik yang meski tertutup sebagian, tetap menyisakan jejak kemegahan masa lampau. Kubah-kubah besar di atas kepalaku seperti menyimpan desah napas zaman, gema dari doa-doa yang pernah dipanjatkan dalam bahasa Yunani dan Arab, doa dari dua peradaban besar yang pernah bersilang di sini.
Setelah puas mengelilingi bagian dalam Ayasofya, aku kembali ke area utama salat. Saat itu, Iqomat Isya telah berkumandang, menandai awal malam di sepuluh hari terakhir Ramadan—malam-malam penuh keberkahan yang diyakini menyimpan Lailatul Qadar, malam seribu bulan.
Namun, ada sesuatu yang ironis menyelinap dalam diam. Bangunan seluas ini, yang dulunya menampung ribuan orang saat misa agung Bizantium, kini hanya terisi seperempatnya, dan itupun hanya di barisan depan. Hamparan karpet merah tua yang seharusnya penuh dengan barisan jamaah, kini tampak longgar dan lengang.
Aku duduk di saf terdepan, lalu menata niat. Menundukkan hati. Menjalankan salat dengan tenang, meskipun dalam benakku masih bergaung pertanyaan: mengapa tak banyak orang yang memadati tempat yang begitu sakral ini, terutama di malam-malam terakhir Ramadan?
Usai salat, aku tak langsung beranjak keluar. Aku berdiri di tengah ruang utama, mencoba mengabadikan momen. Awalnya aku hanya berswafoto seadanya, mencoba menyesuaikan sudut dan pencahayaan. Tapi Tuhan sepertinya mengirimkan seseorang. Seorang lelaki paruh baya tersenyum dan menawarkan diri untuk memotretku. Tanpa banyak kata, ia menangkap beberapa gambar diriku dengan latar belakang kaligrafi Allah dan Muhammad yang menggantung megah di tengah ruang.
Aku tersenyum. Bukan karena hasil fotonya, tapi karena aku tahu, momen ini adalah milik sejarah dan perasaan. Di hadapanku, Hagia Sophia berdiri bukan hanya sebagai bangunan. Ia adalah tubuh dari sejarah, tempat agama-agama besar pernah menundukkan hati. Dindingnya menyimpan gema Injil dan lantun ayat-ayat suci Al-Qur'an. Pilar-pilarnya menjadi saksi dari khotbah para patriark hingga khutbah para imam. Dan kini, aku—seorang musafir dari negeri jauh—menjadi saksi kecil dari perjalanan agung itu.
Ayasofya, engkau bukan hanya saksi sejarah, tapi jembatan antara zaman. Dan aku, hanya setetes kecil dari lautan waktu yang pernah engkau tahan dalam diam.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar