Cerdas berfikir

Cerdas berfikir
ilmu sumber hidup bahagia dunia akhirat

Minggu, 19 Juli 2026

Catatan Pertemuan dengan Pak Amien Rais

 Catatan Pertemuan Bersama Prof. Dr. M. Amien Rais

Oleh : Khoirul, M.Ag.

Pertemuan dengan Prof. Dr. H. M. Amien Rais menjadi pengalaman yang berkesan sekaligus membuka banyak pelajaran hidup. Sebagai seorang tokoh reformasi, mantan Ketua MPR RI, dan akademisi yang menempuh pendidikan doktoral di Amerika Serikat, beliau memperlihatkan sosok yang jauh dari kesan keras. Yang saya temui justru seorang ulama sekaligus intelektual yang teduh, lembut dalam bertutur, tetapi memiliki wibawa yang sangat kuat. Kecerdasan dan keluasan wawasannya tampak dari setiap jawaban yang beliau sampaikan.


Awal mula kita dijamu di pendopo, lanjut diskusi di Kaktus Coffee Shop, sebuah kafe milik keluarga beliau di kawasan Yogyakarta. Sebelum berangkat, saya telah menyiapkan sejumlah pertanyaan yang ingin saya ajukan. Namun menariknya, hampir setiap jawaban yang beliau berikan selalu bermuara pada nilai-nilai agama. Apa pun topik yang dibicarakan—politik, kepemimpinan, bangsa, bahkan persoalan kehidupan—selalu beliau kaitkan dengan ayat-ayat Al-Qur'an, hadis Nabi, atau hakikat kehidupan manusia di dunia. Saya sempat berseloroh dalam hati, "Lama-lama saya kehabisan pertanyaan, karena semua jawabannya kembali kepada agama." Candaan kecil itu justru menunjukkan betapa kuatnya orientasi spiritual beliau di masa senjanya.


Memasuki usia sekitar 82 tahun, kondisi fisik beliau masih tampak sangat prima. Beliau bercerita bahwa hasil pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh, termasuk medical check-up dan pemindaian organ tubuh, menunjukkan kondisi yang baik. Tidak ada keluhan berarti seperti diabetes, tekanan darah tinggi, maupun kolesterol yang mengganggu aktivitasnya. Beliau juga mengatakan bahwa hingga kini tidak memiliki pantangan makanan yang khusus. Mendengar pengakuan tersebut, saya hanya bisa mengucapkan, Masya Allah, semoga Allah senantiasa menjaga kesehatan dan keberkahan usia beliau.


Salah satu kisah yang paling membekas dalam ingatan saya adalah cerita beliau ketika ikut mendorong Presiden Soeharto untuk mengundurkan diri pada masa Reformasi 1998. Menurut penuturan beliau, nasihat itu disampaikan dengan bahasa yang santun tetapi sangat menyentuh. Beliau berkata kurang lebih:


"Pak Harto, Bapak sudah memimpin negeri ini cukup lama. Sekarang banyak pihak berharap Bapak berkenan mundur dari kepemimpinan. Jika Bapak melihat ke kanan, negara-negara tetangga berharap bapak mundur. Jika melihat ke kiri, negara-negara Barat juga berharap demikian. Jika melihat ke belakang, rakyat Indonesia menginginkan bapak mundru. Jika melihat ke depan, parlemen pun menghendaki demikian. Jika melihat ke atas, Allah menghendaki bapak turun dari jabatan presiden. Dan jika melihat ke bawah, bumi pun menanti bapak mundur."


Menurut cerita beliau, Presiden Soeharto saat itu hanya terdiam tanpa memberikan tanggapan. Namun dari raut wajahnya, Prof. Amien Rais merasa bahwa pesan tersebut telah sampai ke hati beliau. Beberapa waktu kemudian, pada 21 Mei 1998, Presiden Soeharto akhirnya mengundurkan diri dari jabatannya dan kepemimpinan nasional dilanjutkan oleh Wakil Presiden B. J. Habibie.


Di tengah perbincangan, beliau juga menyampaikan sebuah renungan yang sangat filosofis tentang waktu salat. Menurut beliau, lima waktu salat menggambarkan perjalanan hidup manusia.


"Subuh adalah masa kelahiran dan masa kanak-kanak. Zuhur adalah masa dewasa ketika tenaga sedang kuat-kuatnya. Asar adalah masa tua ketika kekuatan mulai berkurang. Magrib adalah usia lanjut, seperti saya sekarang yang sudah memasuki usia delapan puluhan. Tinggal menunggu Isya, yaitu saat kegelapan datang, saat manusia kembali kepada Allah dan memasuki alam kubur."


Perumpamaan sederhana itu terasa begitu dalam. Beliau mengajak saya memahami bahwa umur manusia sesungguhnya hanyalah sebuah perjalanan yang bergerak dari terang menuju senja, lalu kembali kepada Sang Pencipta.


Beliau juga bercerita pernah menerima tawaran dari pihak yang dekat dengan rezim pemerintahan sebelumnya. Tawaran tersebut, menurut pengakuannya, bernilai sekitar Rp200 miliar, dengan syarat beliau berhenti mengkritik pemerintah dan memilih diam. Tawaran itu justru beliau tolak mentah-mentah. Bahkan ketika kisah tersebut beliau ceritakan kepada istrinya, sang istri memberikan jawaban yang sangat menguatkan.


"Bapak sudah mendekati akhir kehidupan. Apa lagi yang dicari? Kalau menerima uang itu demi membungkam kebenaran, sama saja menggadaikan prinsip dan bapak murtad."


Jawaban tersebut, menurut beliau, sejalan dengan prinsip hidup yang selama ini dipegangnya: tidak menjual idealisme demi harta atau jabatan. Bagi beliau, kritik kepada penguasa adalah bagian dari tanggung jawab moral selama dilakukan dengan niat memperjuangkan kebenaran.


Hal kecil yang juga menarik perhatian saya adalah sikap beliau terhadap urusan sehari-hari. Seusai berbincang, kami menikmati hidangan di Kaktus Coffee Shop, yang merupakan usaha milik keluarganya. Meskipun berada di tempat usahanya sendiri, beliau tetap membayar seluruh pesanan dengan uang tunai. Tidak ada perlakuan istimewa hanya karena pemiliknya adalah keluarganya sendiri. Saya melihat ini sebagai pelajaran tentang integritas, kedisiplinan, dan profesionalisme dalam mengelola usaha.


Dari keseluruhan pertemuan tersebut, saya menangkap satu kesan yang sangat kuat. Di usia yang telah senja, Prof. Dr. M. Amien Rais tetap teguh memegang prinsip, berani menyampaikan kritik kepada penguasa tanpa rasa takut, serta semakin mendekatkan seluruh cara pandangnya kepada ajaran Islam. Kecerdasan intelektual yang dahulu membesarkan namanya kini berpadu dengan kedalaman spiritual yang membuat setiap nasihatnya terasa lebih bermakna. Pertemuan singkat itu bukan hanya menjadi pengalaman berharga, tetapi juga pelajaran tentang bagaimana menjaga idealisme, keberanian, dan keimanan hingga penghujung usia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar